M. Natsir, Ikon Pembela Islam

Tahun 1999 lalu Yusuf Qaradawi pernah datang ke Indonesia. Ketika itu masa-masa menjelang perhelatan politik, pemilihan presiden. Dalam ceramahnya di masjid Al Azhar, Yusuf Qaradawi menyebutkan kenangannya ketika dua puluh lima tahun sebelumnya ia datang ke Indonesia untuk kali yang pertama. Ketika itu dia disambut oleh Muhammad Natsir, pendiri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Dalam ceramahnya itu, Yusuf Qaradawi menyebut M. Natsir sebagai mujahid besar yang dimiliki Indonesia. Yusuf Qaradawi begitu respek kepada M. Natsir yang berjuang begitu gigih menghadang kristenisasi di Indonesia. Dalam bukunya tentang umat Islam memasuki abad 21, barangkali satu-satunya tokoh Indonesia yang dia sebut hanyalah M. Natsir; disamping menyebut Masyumi dan Partai Keadilan (sekarang PKS) yang muncul di era reformasi.

Bahkan Yusuf Qaradawi menyebutnya sebagai mujahid besar ? Begitu istimewanya M. Natsir. Apa yang membuatnya sedemikian istimewa ?

Membaca kumpulan karangannya Capita Selecta jilid satu secara sepintas lalu mungkin kita hanya mendapatkan sekedar kompilasi karangan yang penuh wawasan dari beliau. Tetapi jika kita membacanya dalam konteks sejarah bagaimana karangan-karangan itu muncul kita bertemu tidak sekedar dengan wawasan tetapi juga dengan kegigihannya dalam melakukan pembelaan terhadap Islam dan umatnya. Dalam biografi yang ditulis oleh Ajib Rosidi (sayangnya baru satu jilid), tergambar bagaimana kegigihannya membela Islam terefleksi dalam karangan-karangannya yang tersiar.

Abad kedua puluh masa kolonial ditandai dengan berlakunya politik etis Belanda. Salah satu bidang yang digarap adalah pendidikan. Kebijakan kolonial juga memberi timbangan berat sebelah terhadap subsidi bagi kegiatan kristen daripada kegiatan umat Islam yang mayoritas. Dua hal ini kemudian bertemu dalam serangan pemikiran terhadap Islam. Beberapa guru atau pendeta kristen banyak menyiarkan opini yang terdistorsi atas Islam. Opini terdistorsi ini tentu saja melukai umat Islam yang agamanya menjadi sasaran penjelek-jelek-an itu. Isu yang seringkali disebut misalnya isu mengenai perkawinan nabi Muhammad, isu mengenai penjiplakan ajaran Al Qur’an dari Perjanjian Lama atau mengenai pendistorsian sejarah Islam. Isu-isu seperti ini tentu saja berulang-ulang juga di zaman sekarang.

M. Natsir bersama dengan teman-temannya kemudian membentuk Komite Pembela Islam, kemudian menerbitkan majalah Pembela Islam. Di sinilah tulisan-tulisan M. Natsir muncul sebagai wujud pembelaannya atas distorsi-distorsi di atas.

Efek pendidikan kolonial ini kemudian memunculkan generasi berpendidikan baru di Indonesia dengan wajah yang cenderung sekuler. Sebuah hasil strategis yang terancang dari pikiran Snouck Hurgronje. Munculnya elit intelektual ini kemudian menemukan dinamikanya dalam pergerakan kebangsaaan. Sehingga menjadilah mereka kaum kebangsaan. Secara formal tentu saja sebagian besar mereka masih beragama Islam. Tetapi secara relatif mereka terasing dari nilai-nilai Islam; sebagai efek dari pendidikan dan ide yang mereka kembangkan. Keterasingan relatif atas Islam ini kemudian berdampak pada sikap mereka terhadap Islam. Mereka menghendaki wilayah pergerakan kebangsaan mereka sebagai wilayah “netral agama”. Sebuah gagasan yang substansinya justru menghendaki peminggiran Islam, sebagaimana diungkapkan oleh M. Natsir. Bagaimana tidak ? Dalam rakyat yang mayoritas Muslim (hampir 90% ketika) justru diinginkan agar wilayah politik menjadi netral agama; dalam pikiran kaum kebangsaan isu atau gerakan berdasar agama justru memecah belah bangsa. Sebuah isu yang sampai sekarang juga masih sering diungkapkan orang, apalagi menjelang pertarungan politik dalam pemilu seperti sekarang. Seolah-olah dengan menggunakan agama Islam sebagai dasar justru akan memecah persatuan bangsa atau menggunakan Islam berarti tidak nasionalis. Justru, dalam Islam ungkap Natsir, nasionalisme itu berakar dengan kuat dan bisa menyatukan bangsa.

Tidak sekedar menyebutkan wilayah netral agama, dalam beberapa kasus kaum kebangsaan ketika itu lebih jauh ada yang melakukan pelecehan terhadap Islam. Isu poligami misalnya menjadi isu yang dijadikan topik pelecehan. Dalam salah satu rapat PNI (Partai Nasional Indonesia) disebutkan bahwa mereka yang beristri lebih dari satu segera akan dikeluarkan dari PNI. Walaupun sebelumnya Soekarno menyatakan dia tidak anti dengan Islam. Parahnya kemudian tokoh nasionalis lain yang diungkapkan dalam surat kabar yang dipimpin dr. Soetomo kemudian menyebutkan tidak perlunya ibadah haji ke Mekkah, yang menurutnya tidak ekonomis, cukup ke mesjid Demak saja. Bahkan pergi ke Digul (dalam pembuangan) lebih utama dari pergi haji. Isu seperti ini kemudian ditangkis oleh M. Natsir dengan mengingatkan apa arti ekonomis pergi haji dan mengingatkan betapa perjuangan kemerdekaan lebih banyak dilakukan oleh orang bertitel haji dibandingkan dokter, mereka yang diasingkan juga banyak yang begelar haji dibandingkan gelar sekolah kolonial. Jadi haji justru menghidupkan semangat kebangsaan, kemerdekaan.

Pada masa-masa selanjutnya M. Natsir terus melakukan pembelaan ini. Polemiknya dengan Soekarno tentang kebangsaan. Perjuangannya secara demokratis dalam memperjuangkan Islam sebagai dasar negara di konstituante. Oposisinya terhadap Soekarno. Perjuangannya menghadang Kristenisasi di Indonesia. Oposisinya terhadap Orde Baru. Semua itu menjadikannya layak menjadi ikon pembela Islam.

Catatan Rujukan

M.Natsir : Capita Selecta Jilid 1, Bulan Bintang 1973. Kebudayaan Islam dalam Perpektif terbitan Girimukti Pasaka 1988. Islam dan Kristen, Media Dakwah. Islam dan Negara, Media Dakwah.

M. Natsir sebuah biografi, karangan Ajip Rosidi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s