Antara Me-muda-kan, Membudakkan dan Memudahkan Pengertian Islam

Sukarno : Me-muda-kan Pengertian Islam
Semasa pembuangan Sukarno di Endeh, Flores dan di Bengkulu minat Sukarno terhadap Islam semakin meningkat. Bukan berarti pada masa-masa sebelumnya Sukarno tidak pernah bicara mengenai Islam, tetapi intensitas pemikirannya pada masa-masa pembuangan ini terhadap Islam sangat tinggi. Dari Endeh ia melakukan surat menyurat dengan A. Hasan di Bandung. Oleh A. Hasan surat-surat Sukarno kemudian diterbitkan sebagai Surat-Surat Islam Dari Endeh Flores. Tetapi baru pada saat pembuangan di Bengkulu, ketika ia diberikan kebebasan relatif untuk menuangkan pikirannya di media massa dan terlibat dalam organisasi Muhammadiyah di Bengkulu, pemikirannya tentang pembaruan Islam mengundang polemik.

Kala itu ia menulis sebuah artikel dengan judul “Me-muda-kan Pengertian Islam”. Ia mengkritisi sikap kolot, sikap taqlid, fiqh dan peminggiran rasionalitas dari kehidupan beragama umat Islam. Bagi Sukarno, Islam seharusnya identik dengan kemajuan, identik dengan modern. Kejumudan, kebekuan yang dialami oleh Islam mestilah diakhiri. Diperlukan sikap kritis atau koreksi diri dalam bentuk membuka kembali pintu ijtihad yang sudah sekian lama ditutup. Proses untuk me-muda-kan pengertian Islam atau proyek rethinking of Islam atau modernisasi Islam ini mesti bermula dari motor penggerak dari aliran koreksi diri. Motor penggerak itu adalah mengembalikan kembali rasionalisme yang terpinggirkan. Rasionalisme yang diinginkan Sukarno haruslah mencapai tingkat memahami secara rasional 100% terhadap penafsiran, pemahaman terhadap Quran dan Hadist.

Dalam karangannya “Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara” Sukarno menggunakan tamsil, sebagai satu contoh proyek rasionalisme Islam-nya. “Pada suatu hari saya punya anjing menjilat air di dalam panci di dekat sumur. Saya punya anak, Ratna Juami, berteriak : “Papi, papi, si ketuk menjilat air di dalam panci.” Saya menjawab : “Buanglah air itu dan cucilah panci itu beberap kali bersih-bersih dengan sabun dan kreolin”. Ratna termenang sebentar, kemudian ia menanya : “Tidakkah Nabi bersabda, bahwa panci itu mesti dicuci tujuh kali, antaraya satu kali dengan tanah ?.” Saya menjawab : “Ratna, di zaman Nabi belum ada sabun dan kreolin, Nabi waktu itu tidak bisa memerintahkan orang memakai sabun dan kreolin.” Muka Ratna menjadi cerah kembali ! Itu malam ia tidur dengan roman muka seperti tersenyum seperti mukanya orang yang mendapat kebahagiaan besar.”

Selain itu Sukarno juga memberikan contoh atau exemplar dari upaya modernisasi Islam itu dengan Turki. Ia menulis “Mengapa Turki Pisahkan Agama dari Negara”.

A. Hasan : Membudakkan Pengertian Islam
Polemik kemudian tersulut. Identifikasi Sukarno sebagai kaum muda yang menginginkan pembaruan melawan kaum tua yang kolot atau ahli fekih yang tidak tahu sejarah rupa-rupanya merupakan salah baca atas peta sosial yang ada kala itu. Justru dari kalangan kaum muda muncullah reaksi atas karangan polemisnya. Salah satu yang memberikan respon justru adalah A. Hasan kawan bersuratnya kala di Endeh dulu. A. Hasan menulis karangan untuk membantah pemikiran Sukarno dengan judul “Membudakkan Pengertian Islam.” Pada substansinya pemikiran Sukarno bagi A. Hasan adalah upaya untuk meninggalkan Quran kalau Quran tidak mau turut pikiran kita.

M. Natsir : Memudahkan Pengertian Islam
M. Natsir kala itu, dengan menggunakan nama samaran A. Moekhlis, juga memberikan responsi terhadap pikiran-pikiran Sukarno di atas. Ia menulis sebuah tulisan berjudul “Sikap Islam Terhadap Kemerdekaan Berpikir”. Pada masa-masa selanjutnya tulisannya itu diterbitkan dengan judul “Islam dan Akal Merdeka”.

Dalam tulisannya itu M. Natsir mengungkapkan pokok-pokok pikiran berikut, untuk memudahkan pengertian Islam :

  1. Islam memberikan penghargaan terhadap akal manusia, memberikan perlindungan atas akal manusia dan merangsang pendayagunaan akal manusia.
  2. Tetapi semata-mata akal tidaklah cukup. Akal bisa menguatkan keimanan tetapi akal juga bisa menjerumuskan diri dalam kekufuran. Islam adalah suplement bagi akal manusia. Pada titik dimana akal tidak memiliki daya untuk membahasnya maka Islam memberikan penerangannya. Akal memiliki batas yang pada titik batas itu ia hanya mampu mengatakan “wallahu a’lam”.
  3. Permasalahan yang dihadapi oleh umat terhadap akal-merdeka adalah pada akal merdeka yang salah pasang. Salah pasang secara tradisionalis atau salah pasang secara modernis. Akal merdeka bisa salah pasang dengan mencari-cari akal untuk membenarkan menyembah kuburan. Demikian pula akal merdeka bisa salah pasang mencari-cari akal untuk membenarkan salutasi kepada bendera nasional.
  4. Adalah penting untuk memisahkan urusan “dunia” dan urusan “dien”. Untuk urusan “dunia” prinsipnya adalah semua boleh kecuali yang dilarang. Sedang untuk urusan “dien” semua terlarang kecuali yang diperintah. Perlu juga dipahami tipologi urusan yang diperintahkan “dien” tetapi caranya diserahkan kepada manusia untuk melaksanakannya.
  5. Tetapi ada bagian-bagian yang samar, yang menjadi titik khilaf untuk menentukan apakah ini urusan “dunia” atau urusan “dien”. Tamsil oleh Sukarno mengenai membersihkan jilatan anjing salah satu yang masuk wilayah seperti ini. Dalam sejarah fiqh Islam sendiri ada perbedaan pendapat tentang hal ini. Ada yang memandangnya hanya masalah penyucian najis saja sehingga muncul pendapat seperti yang diberikan oleh Sukarno dalam tamsilnya itu. Ada juga yang berpendapat ini masalah ta’abudi kepada Allah sehingga menyucikan dengan tanah adalah bagian dari ta’abudi itu. Sehingga untuk tamsilnya adalah sebagai berikut : “Anak saya datang mengatakan : Bah,si kumbang menjilat panci. Cukupkah dicuci dengan sabun dan kreolin saja ?” Saya menjawab : “Sekedar menjaga kebersihan kita, itu sudah cukup. Akan tetapi untuk menyempurnakan satu suruhan Agama yang harus kita terima dengan taabudi, dalam hal ini cucilah panci itu pakai tanah satu kali dan lindangi dengan air bersih-bersih dengan air enam kali. Sekarang bila kuatir, kalau-kalau pada bekas jilatan itu ada bakteri, cuci pulalah sekali lagi dengan lisol atau kreolin dan yang semacam itu.” Anak saya pun tidur pada malamnya dengan nyenyak dan mukanya berseri-seri lantaran rasa dan pengertiaannya sebagai anak dari zaman ilmu bakteriologi dan higienie sudah dipuaskan dengan cara yang telah dimerdekakan agama melakukannya. Sedangkan disamping itu tleh sempurnakan satu perintah ubudiyah terhadap Tuhannya dengan cara yang telah diterangkan Rasulullah SAW.
  6. Di sini letak permasalahannya kemudian bukan pada konklusi yang dihasilkan. Fuqaha seperti kakek Ibn Rusyd mencapai konklusi seperti yang ditamsilkan oleh Sukarno. Tetapi Fuqaha (kakek Ibn Rusyd) dan Sukarno memiliki tintik anjak yang berbeda. Titik perbedaan itu adalah pada sikap hidup mereka. Sikap hidup yang menjadi dasar pembahasan masalah-masalah agama. Pada para fuqaha pertikaian itu bukan lantaran perbedaan dasar tetapi berkaitan dengan di mana meletakkan persoalan (masalah dien atau masalah dunia). Mereka berijtihad menurut undang-undang ijtihad. Akal mereka bukan akal anarki yang tak kenal batas, tetapi akal berdisiplin yang tahu kedudukannya. Dasar pendirian seperti di atas berbeda dengan mode pendirian, “Tak usah pakai tanah, lantaran zaman dulu belum ada sabun. Sekarang sudah ada.” Ini semata-mata akal merdeka, akal tanpa disiplin agama. Apa yang terpikir tidak sesuai dengan zaman di “up to date” kan. Jalan pikiran seperti ini bisa saja menyimpulkan babi tidak lagi diharamkan karena sudah ada alat yang bisa mengenyahkan kuman-kuman yang bersemayam di dagingnya, bolehlah berbedak saja untuk menggantikan tayamum, atau salat bisa diganti denga olahraga tertentu; Natsir mencontohkan. Bagi Natsir, salah pasang akal merdeka seperti ini bukan lagi interpretasi agama tetapi sudah merupakan likuidasi agama.

Catatan Rujukan
M. Natsir, Sebuah Biografi. Ajip Rosidi. Giri Mukti Pasaka. 1990.
Sukarno dan Perjuangan Kemerdekaan. Bernhard Dahm. LP3ES. 1987.
Labirin Ideologi Muslim. Howard Federspiel. Serambi. 2004.
Kebudayaan Islam Dalam Perspektif Sejarah. M Natsir. Giri Mukti Pasaka.1988.

2 thoughts on “Antara Me-muda-kan, Membudakkan dan Memudahkan Pengertian Islam

  1. Terima kasih saya telah mengerti apa yang dimaksud penulis Bp. M. Natsir : Memudahkan Pengertian Islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s