Memancing Lintasan Pikiran

Masalah yang sering diingatkan oleh mentor saya di Rohis waktu SMA dulu, sebuah nasehat yang sering juga terdengar disampaikan dalam khutbah-khutbah jum’at, adalah nasehat untuk istiqamah. Istiqamah dalam keimanan, juga istiqamah dalam dakwah. Istiqamah identik dengan bersikap sabar. Dalam arti menahan diri. Menurut satu buku yang pernah saya baca, akar kata sabar memang berarti menahan. Dalam makna ini akar kata sabar digunakan untuk menggambarkan seekor kuda yang ditarik tali kekangnya untuk menghentikan atau menahannya dari berlari.

Dalam kata istiqamah atau sabar di atas, tersirat juga makna perjuangan. Maksudnya untuk bisa istiqamah atau sabar dibutuhkan usaha. Karena ia tidak hadir dengan sendirinya. Ada kesadaran, ada pengetahuan, ada pilihan dan ada usaha. Padanya ada tingkat kesulitan tertentu. Maksudnya bersabar atau mempertahankan keistiqamahan tidaklah mudah untuk dikerjakan. Barangkali itulah sebabnya perintah bersabar dan istiqamah banyak kita dapati dalam nasehat-nasehat.

Kenyataan ini bertemu dengan kondisi psikologis kita (manusia) yang memiliki hati yang mudah berbolak-balik. Pada jiwa manusia diberikan ilham untuk mengerjakan ketaqwaan atau kedurhakaan. Jiwa manusia pada dasarnya suka sekali kepada yang serba cepat, instan, serba tergesa-gesa. Oleh karenanya nasehat untuk istiqamah pada konteks ini juga menemukan relevansinya.

Bagaimana ketergelinciran dari jalan istiqamah bermula ? Nasehat Ibnul Qayyim Al Jauziah dalam beberapa bukunya berikut rasanya penting untuk kita refleksikan. Menurut Ibnul Qayyim kita bisa menelusuri alur munculnya sebuah kemaksiatan dari urut-urutan berikut. Bermula dari lintasan pikiran atau lintasan hati; jika tidak kita kendalikan atau jika lintasan-lintasan pikiran yang buruk kita biarkan atau justru kita pupuk maka ia akan menguat menjadi keinginan, keinginan buruk yang kita tidak patahkan bisa menguat menjadi azam (tekad, kemauan kuat); tekad yang terus terpupuk akan memunculkan perbuatan; dan pada puncaknya perbuatan yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Ibnul Qayyim menyatakan merubah kebiasaan lebih sulit daripada merubah perbuatan awal, perbuatan lebih sulit dirubah dibanding kemauan. Sehingga titik awal perubahan adalah pada pengendalian lintasan pikiran. Beginilah basis psikologis sebuah kemaksiatan muncul. Tetapi skema ini juga bisa diberlakukan pada konteks memupuk kebiasaan baik atau merubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik.

Jadi semua bermula dari lintasan pikiran. Lintasan pikiran ada kalanya baik, ada kalanya buruk. Seorang ulama, Ibnul Jauzi (ini orang yang berbeda dengan Ibnul Qayyim Al Jauziah), mengarang satu buku yang diberi judul Shoidul Khatir. Arti judul itu (menurut ustadz Warsito) adalah Memancing Lintasan Pikiran. Jadi kita juga bisa secara kreatif memancing lintasan pikiran untuk mendapatkan pikiran-pikiran yang baik untuk kita kembangkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s