Hidup Yang Tak Diperiksa Tak Layak Dijalani

“The unexamined life is not worth living”. [Hidup yang tak diperiksa tak layak dijalani].

Itu adalah ungkapan Socrates. Ungkapan itu diucapkannya dalam pidato pembelaanya di pengadilan [Apologi]. Dalam pidatonya itu dia menjawab jika diandaikan ia diberikan kebebasan tetapi dengan catatan tidak boleh melakukan lagi kebiasaannya yang selalu bertanya-tanya kepada setiap orang tetang keutamaan. Hidup yang tak diperiksa tak layak dijalani, ungkapnya.

Untuk apa memeriksa hidup ? Ini terkait dengan beda mengira tahu dengan tahu. Klaim bahwa kita mengetahui mengenai banyak hal padahal sesungguhnya kita tidak mengetahuinya atau dangkal saja pengetahuan kita. Socrates mengatakan bahwa mereka yang arif adalah mereka yang tahu bahwa mereka [pada hakekatnya] tidak [terlalu] tahu.

Bagaimana memeriksa hidup ? Bertanya. Alat utama memeriksa hidup adalah dengan bertanya. Bertanya memberi kesempatan kepada kita untuk berefleksi. Bertanya berarti berdialog dengan orang lain atau dengan diri sendiri. Socrates mengibaratkan perannya sebagai seorang penanya seperti seekor serangga yang menyengat seekor kuda yang lambat jalannya; dengan demikian menjadi dinamislah kuda itu.

Apakah selalu ada jawaban [pasti] untuk setiap pertanyaan ? Tidak selalu. Kadangkala yang kita butuhkan memang sekadar bertanya dengan demikian memeriksa. Dengan bertanya kita membuka wawasan. Sehingga kita memahami konteks apa yang kita kerjakan (laku hidup kita). Kadangkala yang kita butuhkan bukanlah jawaban yang tepat tetapi adalah pertanyaan yang tepat, setidaknya demikian menurut Drucker.

5 thoughts on “Hidup Yang Tak Diperiksa Tak Layak Dijalani

  1. unexamined disana sepertinya bisa juga bermakna tak diuji. Jadi, kehidupan yang tak ada ujian didalamnya sama dengan kehidupan yang sia-sia. Karena hakikat hidup adalah ujian🙂

    Hidup untuk hidup..

    • Konteks “diperiksa/examined” disini adalah mempertanyakan, merefleksikan, evaluasi atas pemahaman atau pemikiran. Menurut saya boleh saja “examined” diterjemahkan sebagai “diuji” dalam makna mempertanyakan, merefleksikan atau mengeavaluasi. Tidak tepat jika “diuji” dimaknai sebagai ujian kehidupan semacam kesusahan, penderitaan, musibah, atau kesulitan-kesulitan yang dialami sehari-hari.

  2. Assalamualaikum Budiman (orang berbudi dan beriman hehehe)

    Menarik juga nih pembahasan, mengenai pernyataan Socrates, Hidup yang tak diperiksa tak layak dijalani. Ane kira hal ini erat kaitannya dengan melawan “keangkuhan”. PAda dasarnya iman mengajarkan pada kita untuk selalu menjalani kehidupan dalam koridor pengetahuan. Bukankan demikian yang disampaikan oleh Allah SWT “Janganlah kau ikuti sesuatu yang tak kau ketahui kebenarannya”. Maka pencarian pengetahuan berasal dari mata air keluhuran yang namanya “Cinta pada Kebenaran”. Maka Jadilah ia manusia pembelajar. Selalu mencari hal-hal baru, yang memperbaiki persepsi yang lama. Inilah yang dinyatakan oleh Musashi dalam karyanya Gorin-no sho (buku lima cincin)…. dalam pengembaraannya mencari kesempuranaan diri, ternyata cincin terakhir adalah “hampa”, refleski kembali, inovasi dan cari cara baru…. belajar lagi. Lihatlah sekarang Jepang dan segala prestasinya, mereka menjadi guru bagi dunia dalam kualitas manufaktur, karena filsafat itu, filsafat untuk terus berefleksi yang di bawa ke dunia sebagai Total Quality Management atau lebih dikenal sebagai semangat “kaizen”
    Lalu apakah selalu semangat penyempurnaan diri itu melulu dari pertanyaan? apakah tepat analogi Socrates yang mengibaratkan dirinya seperti lebah yang mendera kuda agar berjalan dinamis? ane kira esensinya bukan pada pertanyaan itu, tapi justru dari kejujuran niat untuk mencari kebenaran. Al quran juga menceritakan pada kita mengenai pertanyaan-pertanyaan yang tak jujur, cenderung tendensius dan justru muncul dari keangkuhan. Lihatlah bani israil yang terjebak dengan penyakit katsrotus su’al (banyak bertanya), apakah pertanyaan itu jujur atau hanya untuk menyombongkan diri? Dengan pertanyaan-pertanyaan itu, justru bani israil menunjukkan keangkuhan mereka dalam mematuhi nabinya yaitu Nabi Musa as.
    Kalau niatan SOcrates bertanya benar untuk membantu orang sampai tingkatan “tahu bahwa dirinya tidak tahu” itu jujur maka tidak masalah, tapi jika jiwa kritisnya justru muncul dari keangkuhan maka apa artinya pertanyaan2 itu kecuali hanya berupa provokasi murahan agar dikenal dirinya sebagai “yang Maha TAhu”?
    Tampaknya formulasi yang benar adalah “Hidup yang dijalani tanpa kebenaran hakikatnya adalah kematian”

    Wallahualam bishowab

    • Sudah tentu dibutuhkan kejujuran dalam bertanya, tidak sekedar untuk menampilkan keangkuhan mengetahui dari dirinya. Pertanyaannya adalah reflektif bukan pertanyaan untuk menguji atau sekedar membuktikan kehebatan diri.

      Ada dua modus utama mengetahui, menurut Erich Fromm, to have [memiliki, menimbun] dan to be[menjadi, mengada]. Mengetahui dalam konteks ini mestilah dimaknai dalam modus to be.

  3. Pingback: Proyek Offline Baru: #magichub @omuspace | wkpdLabs

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s