Riak-Riak Pikiran

Setiap kita tentu punya harapan. Apa yang kini kita jalani, apa yang saat ini kita nikmati dengan tenang, menggembirakan dan membahagiakan kita berharap tetap berjalan sebagaimana sekarang pada esok hari, pekan depan, bulan depan, tahun depan…di masa-masa mendatang. Harapan kita, semua berjalan normal, artinya tidak ada gangguan yang menggoyahkan hidup kita…tidak ada kejadian yang membuat kita penuh nestapa…tidak ada peristiwa yang melarutkan kita dalam kesedihan. Demikianlah harapan akan ‘normalitas kejadian’ (tentu saja subjektif bagi perasaan kita) membingkai pikiran-pikiran kita.

Tetapi… inilah kehidupan. Pikiran kita selalu berputar. Yang masuk ke dalam ‘mesin’ pikiran kita bukan hanya pikiran-pikiran besar, tetapi juga pikiran-pikiran kecil yang kadangkala masih berwujud dugaan yang belum terbukti validitasnya. Informasi yang membombandir akal kita bukan hanya informasi yang menggembirakan tetapi kadangkala juga yang menyedihkan. Bukan cuma sesuatu yang penting tetapi juga yang remeh. Kejadian dan peristiwa kadangkala menggoyang ‘normalitas kejadian’ yang jadi harapan kita. Sampai kemudian dugaan-dugaan yang belum valid, informasi-informasi yang sepintas menyedihkan menggoyahkan pribadi kita. Dan tiba-tiba, pikiran kita jadi kalut, wajah jadi cemberut, senyum susah untuk muncul, gairah untuk bekerja jadi luntur, kegembiraan pun berubah menjadi kesedihan. Riak-riak kecil arus kejadian bisa menggoyahkan kapal besar hidup pribadi kita.

Ambillah kejadian berita gaji kita yang tidak naik, lamaran kerja yang ditolak, informasi negatif mengenai seseorang yang kita kasihi, kekecewaan yang ditimbulkan oleh sahabat yang mengingkari janji, kata-kata negatif yang mampir di dalam hati kita dari lisan mereka yang suka mengkritik (entah penampilan kita, pikiran kita atau emosi kita). Dan banyak lagi…

Ya… benarlah Ibn Qayyim yang mengungkapkan….”Pikiran kita ibarat mesin penggilingan …gandum atau kerikil yang dimasukkan ia tetap akan digiling…tentu saja dengan hasil yang berbeda.” Setiap prilaku, sikap yang memberikan efek bahagia tidaknya pada pribadi kita amat bergantung pada lintasan pikiran yang kita pupuk dalam hati/akal kita.

Apakah lintasan-lintasan pikiran, informasi, dugaan, kejadian dan peristiwa itu mampu menggoyahkan kekukuhan pribadi kita, menggoyang orientasi dan visi hidup kita, atau merubah citra diri kita… mungkin sangat bergantung dengan cara bagaimana kita mengolah lintasan pikiran itu dalam wadah hati dan akal kita. Itulah barangkali kita perlu selalu husnuzhon, selalu bersyukur dengan nikmat-nikmat kecil yang kita rasakan, berpikir positif dan selalu terbuka untuk kebenaran yang mungkin dirasa pahit.

— Tuhan, ilhamkan kelurusan dalam jiwaku dan hindarkan aku dari keburukan jiwaku —

[Posting ulang dari tulisan januari 2005]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s