Mungkinkah Kartini Berjilbab : Refleksi Kartini Tentang Islam

Waktu SMA dulu pernah terbaca dalam sebuah buku atau brosur bahwa pada fase-fase akhir kehidupannya Kartini mulai akrab dengan Al Quran lewat pengajian yang diberikan oleh seorang kiai, Kiai Soleh Darat, yang menerjemahkan Al Quran ke dalam bahasa Jawa. Sampai kemudian ia mendengarkan ungkapan dalam surat An Nur, yang memuat ungkapan minazhulumati ilan nur; yang barangkali mengilhami ungkapan Habis Gelap Terbitlah Terang. Barangkali kalau ia melanjutkan pengajiannya itu ia akan sampai pada ayat mengenai jilbab, bukan mustahil dia akan berjilbab.

Tentu saja ini hanya spekulasi saja. Keterangan mengenai pengajiannya dengan Kiai Soleh Darat barangkali perlu diteliti lebih lanjut [Adakah keterangan tambahan mengenai ini ?]. Dan ungkapan Habis Gelap Terbitlah Terang dalam suratnya bukanlah diinspirasikan oleh ungkapan minazhulumati ilan nur, tetapi puisi yang didengarnya dari “seorang tua”, yang mengajarinya untuk hidup asketik dengan berkekurangan, menderita dan tafakur sehingga tercapailah nur cahaya; tidak ada cahaya yang tidak didahului oleh gelap. “Habis malam terbitlah cahaya, Habis topan datanglah reda, Habis juang datanglah mulia, Habis duka datanglah suka.”

Bagaimana pandangan Kartini terhadap Islam ? Pandangan Kartini terhadap Islam tidak terlepas dari pengalaman keagamaannya di masa itu dan juga pengaruh pendidikan baratnya. Praktek keagamaan yang penuh takhayul, formalitas dan menindas mempengaruhi antipatinya terhadap praktek-praktek keagamaan Islam ketika itu. Interaksinya dengan pemikiran Barat melalui bacaan dan korespodensinya dengan sahabat penanya yang umumnya beragama Kristen [bahkan sebagiannya adalah zending atau misionaris] mempengaruhi faham metafisik dan etis atas agama.

Kartini menyadari bahwa keislamannya adalah warisan. Kritisme pemikirannya kemudian membuatnya mempertanyakan banyak aspek praktek keberagamaan Islam yang sebagiannya dirasa menindas. Larangan untuk menerjemahkan Al Quran yang menjadikan banyak aspek praktek Islam menjadi tidak terpahami dan praktek poligami yang dirujukkan kepada syariat sering diungkap Kartini secara kritis. “Aku tidak mau” katanya kepada poligami. Bagaimana mencintai agama jika tidak mengenalnya; Qur’an tidak boleh diterjemahkan; ungkapannya yang lain.

Pada tahap terntu kehidupannya ia bahkan menolak untuk melaksanakan lagi puasa atau mengaji yang tak dapat dipahaminya. Apakah ia juga menolak untuk melakukan sholat ? [Belum ditemui ungkapan yang mengisyaratkan ini, walaupun bagi kaum priayi atau bangsawan Jawa ketika itu ini seringkali ditemui].

Pendidikan dan interaksinya [melalui korespodensi maupun melalui pertemuan langsung] membawanya pada perspektif tertentu tentang agama. Baginya kemudian agama pada dasarnya menuju pada kebaikan. Ide mengenai cinta kepada sesama, yang dipengaruhi oleh Kristianitas sering diungkapkannya. Demikian juga atribusi Bapak kepada Allah (seperti dalam Trinitas) sering muncul dalam tulisan-tulisannya. Perjumpaannya dengan Tuhan dialaminya melalui diri sendiri, melalui “tugas manusia adalah menjadi manusia”. Jalan kepada Allah dan jalan kepada kebebasan adalah sama. Tiada Tuhan kecuali Allah ! Kata kami umat Islam dan bersama kami semua yang beriman menerima Allah itu Tuhan, Pencipta alam semesta. Inti semua agama adalah kebaikan. Demikianlah sebagian ungkapannya, pada masa ini.

Sebagian orang menyebut posisinya ini sebagai posisi humanis dalam kehidupan beragama. Apakah kemudian Kartini jatuh kepada pluralisme agama yang memandang semua agama adalah sama. Pada bagian-bagian tertentu beberapa tendensi seperti itu bisa dibaca dalam surat-suratnya, tetapi ia pun memiliki aspek keyakinan kepada agamanya [Islam].

Barangkali ada upaya dari sebagian teman korespondensinya untuk mengajaknya memeluk Kristen. Tetapi ia menegaskan, “Yakinlah nyonya, bahwa kami selalu memeluk agama kami yang sekarang.”[Islam]. Ia juga sering mengkritik kegiatan zending dan misionaris yang membawa misi mengubah keyakinan agama seseorang dalam praktek-praktek kemanusiaan yang sering dilakukan di Jawa ketika itu.

Tahap-tahap akhir kehidupannya memberinya perspektif baru kepada agama. Ini barangkali terkait dengan takdir yang harus dialaminya. Kandasnya cita-citanya sekolah kembali ke negeri Belanda, penerimaanya terhadap lamaran Bupati Rembang [penerimaanya terhadap praktek poligami yang selama ini ditentangnya], mempengaruhi kesadaran keagaamaanya. Pada puncaknya ia minta diijinkan untuk menggunakan gelar tertinggi yaitu sebagai “Hamba Allah.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s