Ikhwanul Muslimun, Sudut Pandang Pengamat Luar

Sejarah Ikhwan sendiri tentu saja sudah menjadi bagian dari sejarah Mesir modern. Tentu saja sebagai sebuah subjek sejarah atau sosiologi, Ikhwanul Muslimun menarik beberapa kalangan di luar Ikhwan untuk menelitinya. Setidaknya ada dua karya rujukan yang sering dikutip orang ketika menulis mengenai Ikhwan. Karya Ishak Musa Al Husaini, The Moslem Brethren (edisi arab terbit 1952, edisi Inggris 1956) dan karya Richard P. Mitchell The Society of Muslim Brothers. Keduanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Karya Al Husaini (terbit 1955) diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 1983 dengan judul Ikhwanul Muslimun: tinjauan sejarah sebuah gerakan Islam (bawah tanah) oleh Grafitipress. Sedangkan karya Mitchell baru pada tahun 2005 diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari edisi terjemahan bahasa Arab dengan judul Masyarakat Ikhwanul Muslimun, diterbitkan oleh Era Intermedia.

Husaini menyifati Ikhwan sebagai gerakan Islam modern terbesar (seingat saya Yusuf Qaradawi pernah mengutip pendapat Al Husaini ini lewat judul edisi bahasa arabnya, Al Ikhwanul Muslimun, Kubra Harakat  Al Islamiyat Al Hadistah). Latar belakang penulisannya adalah untuk memberikan sudut pandang yang lebih netral terhadap Ikhwanul Muslimin.Faktor utama yang menarik mengenai sebab kebesaran Ikhwan adalah figur Hasan Al Banna. Kepribadiannya berperan penting dalam menarik pengikut dan mengembangkan Ikhwan. Ketelitian dan kedisiplinan Al Banna dalam menata organisasinya digambarkan oleh Al Husaini seperti seorang perakit arloji, dengan penuh ketekunan, ketelitian menghasilkan sebuah arloji yang berputar melalui unit-unit yang saling bekerja sama. Sebuah analogi yang bisa diparalelkan dengan pekerjaan ayah Hasan Al Banna, Abdurrahman As Sa’ati si perakitt jam. Sebuah kemampuan yang barangkali juga diwarisi oleh Hasan Al Banna.Bagi Al Husaini ada empat hal yang membedakan Ikhwan dengan gerakan Islam lain; keterpaduan (sesuai inti totalitas Islam yang dipropagandakan), organisasi yang ketat, orientasi dan himbauan yang merakyat, dan interaksi dengan peristiwa dan perkembangan yang berlangsung di masyarakat (Mesir khususnya) termasuk daya tahannya menghadapi penindasan.

Tentu saja selain apresiasi terhadap gerakan Ikhwan, Al Husaini dalam analisanya memberikan kritik terhadap Ikhwan. Beberapa batu ujian bagi keyakinan Ikhwan menurut Al Husaini adalah pemerintahan agama dan masalah perundang-undangan, sikap terhadap peradaban barat dan sikap dalam penggunaan kekerasan untuk mencapai tujuan. Kunci bagi Ikhwan mengenai hal ini adalah penilaian kembali posisi mereka di hadapan demokrasi barat yang aktual, bukan untuk menaklukkan diri kepada barat tetapi untuk menyertai kafilah kemanusiaan yang beradab. Yang kedua adalah perlunya Ikhwan mengembangkan pembaruan pemikiran Islam. Bagaimanapun juga permasalahan-permasalahan pemikiran Islam (klasik) sebagaimana tergambar dalam sejarah ilmu kalam, fiqh maupun filsafat merupakan permasalahan-permasalahan yang akan terus muncul dan butuh pemecahan.

Dalam pengantarnya terhadap bukunya Mitchell terbitan baru (1993), John A. Voll menyebutkan bahwa buku Mitchell itu (terbit pertama kali 1969) telah dua kali diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, dan mendapatkan apresiasi (termasuk kritik) cukup tinggi (termasuk dari kalangan Ikhwan). Satu diberi kata pengantar oleh Shalah ‘Issa, yang ditulis dari perspektif leftist, sebagaimana ditulis oleh Voll. Satu lagi diterjemahkan oleh kalangan Ikhwan, Shalih Abu Ruqaiq. Terjemahan bahasa Indonesia diambil dari terjemahan bahasa Arab yang diberi kata pengantar oleh  Shalah ‘Issa.

Penerjemahan ke dalam bahasa Arab (pengantar Shalah ‘Issa) dan penerbitan kembali edisi Inggris (pengantar John A. Voll) dilatarbelakangi oleh kebutuhan bagi pendekatan yang metodologis bagi pemahaman terhadap gerakan Ikhwan (atau yang semisal). Dalam pengantarnya Shalah ‘Issa mengharapkan terjemahan tersebut bisa memberikan perspektif metodologis untuk mengimbangi gambaran yang jurnalistik atas Ikhwan. Sedangkan Voll menyatakan, walaupun pada satu sisi karya Mitchell ini mengidap perspektif klasik yang digunakan orang untuk memahami agama dan modernisme, perspektif yang menyatakan bahwa masyarakat akan semakin skeptis terhadap agama seiring dengan modernisasi, karya Mitchell ini memiliki banyak kelebihan dan relevansi dengan aktualitas peristiwa kontemporer.

Voll menyebutkan beberapa kesulitan yang ada dalam ilmu sosial untuk memahami kebangkitan agama sekarang ini, dan di sinilah letak keunggulan studi yang dilakukan oleh Mitchell. Pertama, kecenderungan untuk mereduksi fenomena agama sebagai manifestasi motivasi ekonomi semata-mata. Pada kenyataan keyakinan keagamaan membentuk realitas sosial, budaya dan politik masyarakat. Perlulah dipahami bagaimana keyakinan ini dipahami dari perspektif para penganutnya. Kedua, kesulitan mengidentifikasi audiens (pelaku) kebangkitan agama itu. Kecenderungannya adalah bias mengidentikkan fenomena ini dengan kelas bawah sebuah masyarakat. Sebaliknya, Mitchell menunjukkan merupakan fenomena sejak munculnya Ikhwan kelas terdidik menjadi basis pengikutnya. Ketiga, kesulitasn menerapkan terminologi yang berkembang di barat ke dalam konteks masyarakat Islam, semisal fundametalisme atau konservatisme (yang bias kepada anti barat, modernisme atau kelompok marjinal). Mitchell lebih memandang fenomena Ikhwan dari sudut pandang pencarian otentisitas, pencarian akar. Pada akhirnya karya ini juga menjadi eksemplar bagi bidang area-studies, yang mengombinasikan kontak langsung dengan masyarakat yang diteliti dengan studi tekstual atasnya.

Catatan Rujukan

The Society of Muslim Brothers, Oxford University Oress, New York. 1993.
Masyarakat Ikhwanul Muslimun, Era Intermedia, Solo, 2005.
Ikhwanul Muslimun: tinjauan sejarah sebuah gerakan Islam (bawah tanah), Grafitipress, Jakarta, 1983.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s