Fenomena Bunuh Diri, Tinjauan Sosiologis

Beberapa waktu lalu kita mendapatkan berita beberapa kejadian bunuh diri yang dilakukan di tempat umum (apartemen atau mal). Beberapa media massa juga menurunkan berbagai opini ahli yang terkait dengan fenomena ini. Dalam sebuah tulisan di surat kabar nasional, salah satu kunci untuk menekan fenomena ini adalah hubungan keluarga dan penghayatan agama yang lebih intensif.

Dari sekian banyak tulisan yang muncul dalam opini-opini tersebar kebanyakan meninjau fenomena ini dari perspektif psikologis semata. Penjelasan kausalnya bermuara pada faktor-faktor individual, semacam ketidakbahagiaan personal.

Tampaknya perlu juga kita meninjau fenomena ini dari perspektif sosiologis, setidaknya dari studi klasik yang pernah dilakukan, misalnya dari studinya Durkheim mengenai bunuh diri. Dalam studinya Durkheim mencatat rerata bunuh diri berbeda-beda dari berbagai kelompok sosial yang ada. Bunuh diri banyak terjadi pada saat terjadi depresi ekonomi, tetapi juga banyak terjadi ketika kemakmuran ekonomi terjadi. Bagaimana menerangkan hal ini ?

Durkheim membagi tipe bunuh diri dalam dua kategori besar, bunuh diri altruistik dan bunuh diri egoistik; bergantung pada apakah individu terintegrasi secara bermakna (meaningful) dan kohesif ke dalam kelompok sosial. Jika individul tidak terintegrasi secara bermakna dan kohesif mereka tidak akan memiliki tujuan yang jelas dan tidak mendapat dukungan ketika mengalami masa-masa stress. Mereka yang bunuh diri karena mempersepsi diri mereka terisolasi disebut bunuh diri egoistik. Ketika kelompok lebih penting dibanding individu, hidup individu menjadi tidak penting; bunuh diri karena alasan ini dinamakan bunuh diri altruistik.

Bunuh Diri Altruistik. Salah satu tipe bunuh diri ini adalah bunuh diri yang diminta oleh sistem, aturan atau norma. Contoh, bunuh diri yang dilakukan oleh janda yang ditinggal mati oleh suaminya pada masa kasta-kasta Hindu tempo dulu di India. Atau bunuh diri tentara Jepang dalam perang dunia II. Individu dalam hal ini menyerahkan hidupnya demi hidup kelompoknya.

Dalam kasus bunuh diri yang tidak diwajibkan oleh norma, tingkat bunuh diri di kalangan militer juga sangat tinggi, karena nilai individu turun dibandingkan loyalitas sistemik. Demikian pula dikalangan profesionalĀ  perkantoran, dibandingkan dengan mereka yang bekerja kasar (berat, fisik). Dari sini dapat dipahami bahwa beban berat dalam pekerjaan tidak berkorelasi dengan tingkat bunuh diri yang tinggi. Penjelasan Durkheim adalah jika seseorang menjadi anggota kelompok yang mengutamakan kepentingan kelompok dan ketidakpentingan individu, nilai kehidupan individu menjadi menurun.

Bunuh Diri Egoistik. Ini adalah kebalikan dari tipe bunuh diri altruistik. Ketika individu tidak tergabung dalam kelompok sosial yang kohesif, semakin tidak terintegrasi semakin rendah nilai signifikansi kehidupan individual, maka semakin tidak bermakna hidup. Melalui penjelasan Durkheim ini, kita akan menemukan tingkat bunuh diri dalam kalangan yang sudah menikah lebih rendah daripada kalangan yang belum menikah. Demikian pula jika kita perhatikan dalam tradisi agama-agama, bunuh diri merupakan suatu yang dilarang (haram). Tetapi kita mendapati tingkat bunuh diri di kalangan Protestan (saat studi dilakukan oleh Durkheim) lebih tinggi dibandingkan di kalangan Katolik. Protestan menekan tanggung jawab individu, sedangkan Katolik gereja menjadi mediator dalam relasi indiividu dengan Tuhan. Ritual dalam Katolik lebih mendukung kohesifitas sosial. Dikalangan minoritas, semacam Yahudi atau minoritas Protestan di Prancis tingkat bunuh diri juga rendah. Status minoritas membuat kohesifitas kelompok mereka menjadi kuat. Pada saat perang atau revolusi tingkat bunuh diri juga menurun, karena solidaritas masyarakat meningkat.

Bunuh Diri Anomik. Ini adalah tipe lain yang dikonstruksi oleh Durkheim. Menurutnya seseorang selalu menyenangi, menginginkan jika hidup sehari-hari mereka terorientasi pada tujuan-tujuan yang bermakna. Ketika tujuan ini hilang, maka seseorang akan menjadi terdisorientasi, hidup menjadi tidak bermakna; sehingga probabilitas untuk bunuh diri menjadi meningkat. Sebagaimana diungkapkan di atas, keanggotaan dalam sebuah kelompok sosial (keluarga, group, partai, kelompok bermain, masyarakat, negara) memberikan pada individu tujuan. Perubahan cepat yang terjadi dalam masyarakat atau perubahan dalam posisi sosial individu atau musibah yang menimpanya; dapat meluruhkan tujuan dan membuat kondisi anomi (tanpa norma). Ini bisa menjelaskan meningkatnya bunuh diri saat terjadi krisis ekonomi atau booming ekonomi. Atau kasus-kasus dimana seseorang mengalami perubahan posisi atau status sosial yang mendadak. Atau kasus-kasus di mana seseorang berada dalam situasi yang berubah secara mendadak, pasca perceraian misalnya.

Dari penjelasan di atas, apakah ketidakbahagian individu jadi tidak berperan penting dalam menstimulasi bunuh diri ? Tentu saja tidak, secaa definisi, mereka yang melakukan bunuh diri tentu tidak bahagia. Sosiologi hanya menyatakan kepada kita kondisi-kondisi seperti apa yang meningkatkan atau menurunkan probabilitas mereka yang memilih untuk bunuh diri. Tapi siapa orangnya yang akan bunuh diri (secara partikular), mesti dicari penjelasannya secara psikologis.

Catatan Rujukan
The Sociologicl Method, Stephen Cole, Markham Publising 1972.
Realitass Sosial, K.J. Veeger, PT Gramedia, 1985

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s