Hijrah dan Keluasan Rezeki

Pengajian pekanan kali ini diisi dengan taushiah mengenai hijrah oleh ustadz Saiful. Dalam taushiahnya beliau mengungkapkan mengenai nilai hijrah yang disejajarkan dengan jihad. Bahkan sesungguhnya mereka yang siap berhijrah pada dasarnya adalah mereka yang juga siap untuk berjihad. Kalau dikaitkan dengan realitas kehidupan sehari-hari, mereka yang berhijrah adalah mereka yang siap berjuang untuk kehidupan baru, mulai dari nol.

Ada hal yang menarik, yang barangkali kita juga sudah sering membaca ayat ini, cuma tidak menyadari secara menyeluruh. Di surat Al Anfal ayat 74, di penghujuang ayat disebutkan mereka yang berhijrah akan mendapatkan rezeki yang mulia. Jadi ada iming-iming kemulian rezeki, keluasan rezeki bagi mereka yang berhijrah. Diriwayatkan bahwa ketika mengetahui Suhaib bin Sinan Ar Rumi berhijrah dengan meninggalkan semua hartanya yang ada di Makkah, Rasulullah mengatakan bahwa Suhaib telah beruntung.

Apa yang dilakukan oleh Rasulullah setelah hijrah ? Ada tiga hal pokok yang dikerjakan oleh Rasulullah. Pertama, membangun masjid sebagai basis pembinaan iman. Kedua, mempersaudarakan Muhajirin dan Ansar. Ketiga, membuat perjanjian damai dengan komunitas Yahudi di Madinah.

Pembinaan iman melalui pembangunan masjid, penataan sosial dan solusi ekonomi melalui pranata muakha’ (persaudaraan antara muhajirin dan anshar) dan membangun stabilitas politik melalui perjanjian damai (yang dikenal sebagai piagam Madinah). Dengan demikian jika kita menggunakan skema bahwa Islam membawa misi untuk membangun insan, daulah dan hadharah (peradaban), maka pasca hijrah umat Islam siap untuk mengisi daulah yang telah terbentuk melalui proyek peradaban mereka.

Hal yang menarik, dikisahkan bahwa Abdurrahman bin Auf (orang kaya di Makkah sebelum hijrah) dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’ (orang terkaya Madinah), yang kemudian menawarkan kepada Abdurrahman bin Auf separuh hartanya. Tetapi Abdurrahman hanya meminta ditunjukkan kepadanya pasar di tempat itu. Beberapa waktu kemudian Abdurrahman telah memiliki kecukupan harta.

Dari kisah tadi ta’akhi, atau persaudaran adalah konsep hubungan timbal balik, ada itsar dan ada ‘iffah. Itsar mementingkan kebutuhan saudara yang lain. ‘Iffah menjaga kehormatan (harga) diri. Itsar bertemu dengan ‘iffah membentuk taakhi (persaudaraan). Sa’ad menyontohkan itsar, Abdurrahman menyontohkan ‘iffah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s