Bennabi Tentang Budaya

Melalui tinjauan sejarah, menurut Bennabi, culture atau kebudayaan sebagai sebuah konsep telah mulai dipakai oleh para pemikir renaisans dengan makna yang luas mencakup semua hasil atau bentukan pemikiran atau kecerdasan manusia. Ini merupakan visi individualistik terhadap kebudayaan. Kemudian seiring perkembangan ilmu-ilmu sosial di abad 19 konsep individualistik ini menjadi usang dan konsep kebudayaan kemudian lebih menekankan visi sosial (masyarakat) dalam konsepnya.

Berdasarkan dua visi untuk memahami kebudayaan ini, dalam konteks alam pikiran barat, Bennabi membagi perspektif untuk mendefinisikan konsep kebudayaan berdasarkan primasi (keutamaan) yand ditekankan (individu atau masyarakat).
(1) Primasi pada individu. Perspektif kaum liberalis. Kebudayaan adalah produk dari proses psikologis dan mental. Produk ini tergantung kepada aktor individunya.
(1)(1) Definisi Ralp Linton, kebudayaan –> keseluruhan komponen yang berhubungan secara integratif dan kuat, yang membentuk dua sphere (1) yang universal yang menjadi pola, pattern bagi keseluruhan anggota masyarakat (2) ide isoterik khusus bagi spesialis dan profesional.
(1)(2) William Ogburn, kebudayaan material dan adaptif

Penilaian Bennabi, definisi Linton adalah definisi klasik (liberalis) dengan primasi pada individu. Definisi ini juga berporos pada dunia ide. Sedangkan Ogburn, definisi pragmatis yang berporos pada dunia objek (benda). Definisi ini mendeskripsikan realitas aktual (sosio-historis)

(2) Primasi pada masyarakat. Perspektiif Marxis. Kebudayaan adalah hasil/refleksi dari basis material dan struktur sosial yang mengikutinya. Definisi mendeskripsikan mengenai realitas potensial.

Bennabi –> semua definisi deskriptif, terikat dengan tacit elemen (bagian samar-dalam) psiko-sosial, ideologi dan sejarah mereka. Tetapi pendekatan deskriptif ini tidak cukup bagi dunia Islam, karena kebutuhan utamanya adalah dalam rangka rekonstruksi, kebutuhannya tidak semata pencarian deskriptif atas kebudayaan tetapi juga mencari tahu bagaiman kebudayaan itu muncul, pendekatan yang lebih analitis-konstruktif, sebuah perspektif yang ingin membentuk atau merekonstruksi realitas sosial, bukan semata-mata mempelajari realitas yang ada.

Karena setiap realitas sosial, berakar dan pada substansinya, adalah nilai kultural yagn teraktualisasi, yang mengkondisikan manusia dan lingkungannya dalam bentukan yang spesifik, maka problem dunia Islam ada pada level yang fundamental, sebuah transformasi atau perubahan ke arah atau frame baru. Problem ini bisa dipetakan ke dalam dua pertanyaan penting. Apakah misi (vocation) yang harus dicapai oleh dunia muslim di level individu maupun sosialnya ? Kedua, apakah model yang mampu memola perilaku dan aktivitas manusia muslim untuk mencapai misi itu ? Pada titik ini budaya memiliki peran penting. Bennabi melihat primasi antara individu dan masyarakat bukanlah hal yang bertentangan, keduanya merupakan aspek utama kehidupan manusia (dualitas alih-alih dualisme), aspek psiko-ideasional dan aspek objektif-struktural.

Bennabi –> kebudayaan adalah atmosphere yang dibentuk oleh warna, adat, bentuk, ritme dan gerak yang memberi hidup orientasi dan model; yang kemudian menstimulasi imajinasinya, menginspirasi kejeniusannya, menggerakkan fakultas kreatifnya.

Dengan demikian kita tidak mempelajari kebudayaan, tetapi kita menghirup dan mengasimilasikannya. Definisi Bennabi ini melingkupi dimensi ketidaksadaran sebuah budaya yang terinternalisasi dalam individu. Juga tidak mereduksi kebudayaan menjad ilmu (sains). Budaya selalu menghasilkan sains tetapi tidak selalu sains menghasilkan budaya.  Kebudayaan adalah teori pendidikan, pembentukan perilaku, bukan teori ilmu. Kebudayaan adalah noosphere (atmosfer gagasan/ide)

Aspek-aspek kebudayaan–> Bennabi melihat dari perspektif pedagogik –> rekonstruktif.  Aspek-aspek kebudayaan dari perspektif pedagogik itu meliputi Etika (dustur khuluqi), Estetika(dzauq jamali), Pragmatik(mantiq ‘amali), Industri/Teknik(shina’ah).

Kebudayaan –> jembataan yang perlu dilalui oleh masyarakat menuju kemajuan dan peradaban, sekaligus pagar yang melindungi individu dari keterpelantingan.
Bennabi memberikan tamsil mengenai fungsi budaya dalam sebuah peradaban seperti  fungsi darah yang membawa makanan bagi sel-sel tubuh, juga memiliki komponen darah merah dan putih (yang berperan dalam menghadapi serangan kuman penyakit). Budaya membawa pemikiran, nilai untuk disalurkan kepada anggota masyarakatnya, memberinya inspirasi dan kekebalan pemikiran.

Rujukan :

1. On The Origin of Society, karya Malik Bennabi, IBT, KL
2. Question of Idea in the Muslim World, karya Malik Bennabi, IBT, KL
3. Menuju Dunia Baru Islam, karya Malik Bennabi, Mizan, BDG
4. A Muslim Theory of Human Society, Messawi, Thinkers Library, KL

One thought on “Bennabi Tentang Budaya

  1. Pingback: Antara Peradaban dan Kebudayaan « Refleksi[Budi]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s