Teknologi dan Psikologi Perjumpaan Antar Peradaban

Perjumpaan antara dua peradaban seringkali diungkapkan dalam bentuk narasi-narasi besar semacam benturan antar peradaban atau konflik antar peradaban.Tetapi bentuk perjumpaan itu tidak selalu dalam wujud perbenturan fisik maupun militer. Dua peradaban, membawa dua nilai yang berbeda.  Nilai-nilai itu sebagiannya tentu tidak saling kompatibel, bahkan sebagiannya mungkin saling kontradiksi.

Elemen-elemen sebuah peradaban dapat merembes masuk ke dalam tubuh peradaban lain, sedemikian rupa, bisa saja tanpa disadari efek perubahan yang mungkin dihasilkannya. Elemen agama sebuah peradaban merupakan elemen paling resisten untuk merembes ke tubuh peradaban lain. Selanjutnya elemen-elemen nilai, norma menduduki peringkat selanjutnya. Elemen sebuah peradaban yang paling mudah untuk diterima adalah teknik atau teknologi, baik teknik dalam konotasi material maupun teknik atau teknologi sosial. Karena teknik atau teknologi adalah elemen peradaban yang paling terpisah secara fungsional maupun kelembagaan dalam sebuah peradaban.

Teknik/teknologi memiliki kemampuan menembus sekat sebuah peradaban, sebagaimana sinar radioaktif menembus tubuh manusia. Bagi Ogburn, budaya material sebuah masyarakat seringkali lebih cepat berubah dibandingkan budaya adaptif/mental sebuah masyarakat.

Kemampuan menembus teknologi ke dalam tubuh peradaban lain tidak berarti tidak memberikan efek negatif apapun pada peradaban itu, sebagaimana sering diungkapkan orang bahwa teknologi adalah netral. Toynbee memberikan analogi, sama seperti sinar radioaktif yang menembus tubuh manusia dapat menimbulkan efek negatif pada tubuh manusia, demikian pula teknologi pada peradaban. Atau sebagaimana sebuah kuman penyakit yang tidak mematikan dalam sebuah  bangsa, tetapi ketika ditularkan ke bangsa lain dapat memberikan efek mematikan.
Toynbee memberi dua contoh kasus :
1. Pada awal atau pertengahan abad 19 Mesir, dalam perjumpaannya dengan peradaban Barat (melalui invasi Napoleon, yang juga membawa mesin cetak), berusaha melakukan modernisasi terhadap angkatan militernya. Pemerintah Mesir kemudian mendatangkan ahli-ahli militer dari Barat. Tentu saja mereka mengajukan persyaratan sesuai standar mereka, diantaranya syarat membawa keluarga mereka. Karena mereka membutuhkan standar perawatan kesehatan Barat tentu saja mereka juga butuh mendatangkan dokter. Di kompleks militer dokter ini melayani keluarga Barat. Tetapi karena banyak waktu yang luang mereka juga berinisiatif untuk memberikan pertolongan kesehatan bagi keluarga Mesir (yang notabene Muslim) utamanya terkait masalah kelahiran, atau kesehatan keluarga. Pada titik inilah terjadi perbenturan nilai dengan masyarakat sekitar kompleks militer itu, utamanya nilai yang mengatur hubungan antara pria dan wanita.

2. Contoh kedua terkait dengan negara nasional, yang berdiri atas asas nasionalisme. Bagi Barat, bentuk negara nasional adalah satu hal yang wajar yang muncul karena peta wilayah barat telah terpeta berdasarkan pemisahan bahasa yang tegas antara satu daerah dengan daerah lain. Peta alamiah Eropa adalah peta bahasa, yang membentuk garis batas yang jelas. Tetapi bagi negeri Asia, utamanya negeri-negeri Muslim, tidak ada garis batas bahasa yang jelas di sana. Perbauran (dan keragaman) bahasa terjadi di negeri mereka. Sehingga mendirikan negara berasas nasionalisme an sich menjadi satu problem bagi negeri-negeri Muslim terutama.

Jadi teknologi tidaklah netral. Ia membawa nilai-nilai yang menuntut untuk direalisasikan. Sebagaimana diungkapkan pula oleh Marshall McLuhan, medium adalah isi. Medium (teknologi) membawa serta budaya. Mode transportasi mobil merubah perkembangan kota-kota dan interaksi antar manusia. Internet merubah interaksi manusia. Facebook membawa muatan nilai-nilai yang menuntut direalisasikan.

Bagaimana kemudian merespon hal ini ? Isolasi total sebuah peradaban, bukanlah pilihan yang tepat, karena medium teknologi memiliki kebebasan gerak dan daya tembus yang sukar ditangkal.

Sebuah peta tahapan interaksi antara peradaban Barat dan Islam dan pilihan sikap dalam menghadapi Ghazwul Fikri (serbuah pemikiran), yang dikembangkan oleh Thaha Jabir Al Alwani dapat membantu kita memahami hal ini.
Tahap-tahap interaksi budaya antara peradaban Islam dan Barat :
1. Tahap pertama : tahap[ kejutan (shock), tahap ketercengangan kaum muslimin melihat budaya dan peradaban barat. Keterguncangan ini mengakibatkan hilangnya kepercayaan pada pemimikiran Islam dan warisan budaya (tsaqafah-nya). Muncul juga anggapan yang melihat tidak adanya potensi dalam Islam dalam membentuk peradaban dan kemajuan. Akibatnya, mereka meletakkan Islam dalam posisi sebagai tertuduh. Secara psikologis, mereka menderita kekalahan mental. Pada tahap ini muncul kesiapan untuk menerima produk peradaban barat; pemikiran, sains, pengetahuan, seni, sastra, budaya; tanpa menyaring dan adaptasi secara tepat. Era ini ditandai dengan maraknya pengiriman pelajar ke Barat, pendirian lembaga-lembaga pendidikan yang berorientasi ke sana.
2. Tahap kedua : tahap konfrontatif. Kaum muslimin mulai mengaji ulang pemikiran, teori Barat. Ia berperan sebagai murid yang lebih kritis. Studi komparatif, pembahasan pertemuan antara konsep Barat dan Islam dijalankan. Muncullah adagium-adagium berikut ; demokrasi Islam, sosialisme Islam. Sasaran utama tahap ini adalah membuktikan bahwa kaum muslimin memilki seperti yang dimiliki oleh Barat.
3. Tahap ketiga: tahap shahwah Islamiyah/kebangkitan. Tahap mulai mengukuhkan keistimewaan Islam; aqidah, akhlaq, sistem. Tahap ini juga tahap menyingkap kesalahan konsepsi Barat dalam membina kebangkitan Islam. Adagium masa ini adalah Islam cocok untuk setiap zaman dan tempat.
4. Tahap tantangan. Tahap untuk menegaskan pemikiran yang benar, metodologi yang jelas dan pengetahuan yang mendalam. Sasarannya adalah untuk menampilkan alternatif peradaban yang islami. Tidak semata-mata berkutat pada slogan “Islam adalah solusi”. Tetapi bergerak untuk menyediakan dan membangun alternatif solusi itu secara nyata.

Dari sudut pandang problem ghazwul fikri, serbuan pemikiran yang muncul dalam interaksi pemikiran Islam dan Barat. Alwani memetakan tiga pilihan yang bisa dijadikan alternatif dalam menyikapi pemikiran Barat.
1. Istislam, meniru mentah-mentah. Ini adalah sebuah persepsi yang berakar pada penilaian tidak adanya ghazwul fikri. Bagi mereka konsep ini hanyalah rekaan kaum ekstremis semata, yang menolak dan mempersetankan kebudayaan modern dengan revolusi komunikasi dan transportasinya. Sikap ini pada level yang ekstrem memunculkan perbudakan kultural (taba’iyah hadharaiyah), subordinasi pemikiran/kebudayaan.
2. Isti’da’, memusuhi peradaban lain. Sebuah alternatif yang berakar pada persepsi adanya serbuan total atas peradaban, pemikiran umat. Sehingga mereka menyerukan isolasi peradaban. Pada tingkat ekstrem, karena watak pemikiran dan revolusi komunikasi, informasi yang ada sekarang, sikap isolasi kultural ini bisa memunahkan warisan peradaban yang bermanfaat, di samping abai terhadap permasalahan bersama yang dialami oleh umat manusia.
3. Istilham, menyaring mana pemikiran, produk budaya yang sesuai dan selaras dengan aqidah dan syari’ah, kemudian menundukkannya pada manhaj/metodologi Islam. Sikap ini tidak abai terhadap problem bersama umat manusia, tidak abai akan adanya kenyataan banyaknya ragam peradaban yang ada di dunia dan kekhasan peradaban Islam yang kita miliki, sehingga muncullah dialog peradaban (hiwar hadhari).

Rujukan
Teknologi dan Dampak Kebudayaannya Vol 1, YB. Mangunwijaya,edt. YOI. 1993(cet.pertama 1983)
Krisis Pemikiran Modern, Diagnosis dan Resep Pengobatan. Dr. Thaha Jabir Al ‘Alwani, LKPS. Tanpa tahun.
Ketertinggalan Budaya, William Ogburn, Rajawali Press.

One thought on “Teknologi dan Psikologi Perjumpaan Antar Peradaban

  1. Assalamualaikum

    Sekali lagi saduran tulisan yang luar biasa dari Budiman….. syukron akhi….. tulisan ente selalu menjadi rujukan sumber tersier untuk ane….., lebih banyak lagi tulisannya…..sekali lagi salut

    Wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s