Pecahnya Ilusi Diri

Ketika melihat pemain sulap memainkan kehebatannya, seorang anak begitu terperangah. Decak kagum muncul, betapa hebat pesulap itu. Ketika anak itu semakin dewasa, ia mulai tahu, sulap itu hanya ilusi yang dibangun dari kecepatan.Tidak ada yang sungguh-sungguh muncul dari keajaiban. Sulap kemudian tidak lagi memunculkan decak kagum. Ilusi sudah pecah berantakan.

Kadang kala diri kita juga suka membangun ilusi semacam itu. Sebuah ilusi untuk menutup harga diri yang akan terkoyak jika realitas diri terpampang jelas sebagaimana adanya. Keinginan atau kebutuhan akan prestise, penghargaan dan penerimaan orang terhadap diri kita adalah salah satu latar yang merangsang diri kita untuk membangun ilusi diri terhadap orang lain. Kita mendefinisikan diri, melalui ilusi itu, dengan menyembunyikan realitas sesungguhnya di baliknya.

Mungkin akan ada decak kagum, ketika orang lain melihatnya. Mungkin juga tidak ada decak kagum itu, karena bukan itu yang menjadi tujuan kita. Mungkin yang kita inginkan hanya sekedar rasa aman diri. Tetapi sebuah ilusi telah dibangun. Ada jarak antara yang tampak dan yang nyata ada.

Tidak selamanya ilusi bisa bertahan. Pemain sulap boleh saja, membuat seorang terperangah. Tetapi tidak untuk orang lain. Kadangkala ilusi itu tiba-tiba pecah, karena kejadian yang tidak terduga. Pecahnya sebuah ilusi akan menampakkan yang sesungguhnya.

Saat itu kejujuran menjadi pertaruhan. Apakah kita akan menampilkan ke-otentikan kita yang sesungguhnya atau justru kita terbuai dengan ilusi itu dan berlaku tidak jujur kembali. Pecahnya sebuah ilusi diri juga menjadi pertaruhan bagi ‘trust’ (kepercayaan) yang kita bangun pada orang lain.

Sebuah pesan kenabian berikut demikian indah untuk direnungi. Abdullah bin Mas’ud berkata: “Bersabda Rasulullah : Kalian harus jujur karena sesungguhnya jujur itu menunjukan kepada kebaikan dan kebaikan itu menunjukkan kepada jannah. Seseorang senantiasa jujur dan berusaha untuk jujur sehingga ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian dusta karena sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada keburukan dan keburukan itu menunjukkan kepada neraka. Seseorang senantiasa berdusta dan berusaha untuk berdusta sehingga ditulis disisi Allah sebagai seorang pendusta” (HR Muslim)

2 thoughts on “Pecahnya Ilusi Diri

  1. Assalamualaikum abu marwah..

    Hehehe, kenapa nulis ini bud? Abis nonton uya kuya atau anaknya cinta yaa🙂. Atau terperangah karena politik pencitraan yg lagi ngetrend dan tercoreng?

    • Wa’alaikum salam Samm,
      Menulis seperti ini cuma merefleksikan pengalaman aja pak … Beberapa hari lalu ada kejadian terkait dengan tema seperti ini …. Tidak ada kaitannya dengan Uya Kuya ..

      Bagaimana kabarnya ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s