Tergerus Rutinitas  Duniawi

Kehidupan dunia dalam pandangan mata kita, pada umumnya, tampak begitu indah — dibutuhkan, diinginkan, ingin dikuasai bahkan kalau bisa dalam kuantitas yang sebanyak-banyaknya. Keindahan yang menampakkan diri  itulah yang menyibukkan kita dalam urusan-urusan tentang lawan jenis, berbangga-bangga dengan anak, mengakumulasi harta — emas, perak, uang, investasi tanah, kendaraan. (silahkan dirujuk QS : Ali Imran : 14)

Tentu saja semua itu bukan untuk ditampik, ditolak atau dimatikan. Pada taraf tertentu semua itu adalah kebutuhan, kita tak dapat hidup tanpanya.

Tetapi diri manusia mudah untuk jatuh pada titik melampaui batas. Titik itu bisa tercapai ketika kecenderungan, keinginan, syahwat itu bertemu dengan keangkuhan diri, rasa kehebatan diri; merasa hebat, jumawa, untuk merealisasikan semua keinginan itu semata-mata karena kehebatannya. (Silahkan dirujuk QS Al Alaq). Persis seperti yang diungkapkan Qarun ketika menyatakan bahwa semua kekayaan yang dia dapatkan (yang kunci-kunci gudang hartanya saja perlu dipikul oleh beberapa orang) semata-mata karena ilmu, kecerdasan pribadinya. Atau seperti kisah pemilik kebun yang memiliki kebun yang menghasilkan buah yang sedemikian banyak, yang menghasilkan kekayaan yang luar biasa besar, yang membuatnya membanggakan diri di hadapan orang lain, yang membuatnya lupa pada kuasa Allah, Sang Pencipta. Pengetahuan, ilmu, teknologi yang selalu bertambah menambah besar rasa jumawa manusia; kemudian lupa pada pada Tuhan, lupa pada akhirat. Lingkungan ekonomi, sosial pun kita didesain sedemikian rupa sehingga nilai-nilai materialistik, nilai ekonomis, nilai bendawi,  nilai keuntungan duniawi menjadi pertimbangan utama dalam hidup kita.

H. Agus Salim, pada salah satu ceramahnya tahun 1925 dalam pembentukan Jong Islamieten Bond, menggambarkan fenomena ini dengan ungkapan “bukan lagi kita menguasai kehidupan, tetapi kehidupan yang menguasai kita.” Hilang kemauan untuk mempertanyakan hidup. Pasrah. Ungkapan itu disampaikan puluhan tahun lalu. Menandakan bahwa kehidupan manusia, dalam setiap zaman, memiliki kecenderungan yang sama.

Tenggelam dalam rutinitas. Tergerus oleh aktivitas. Hilang keberanian untuk bertanya tentang untuk apa hidup, kemana hidup akan bermuara, bagaimana hidup setelah kehidupan dunia ini.

Seiring dengan pertambahan usia (terutama ketika usia 40 tahun), seiring dengan pertambahan pengalaman hidup, semakin banyak tanggung jawab rumah tangga dan masyarakat yang dimiliki, H. Agus Salim mengungkapkan, betapa kesadaran mengenai kurangnya rasa kepastian kemampuan ilmu pengetahuan untuk menyelesaikan masalah-masalah kehidupan ini muncul. Ada hal yang tidak tercakup oleh ilmu maupun filsafat manusia. Tetapi saat itu, sudah hilang waktu untuk mengaji lebih dalam. Pilihan yang umum diambil adalah pasrah, menerima hidup tanpa mempertanyakannya, perhatian hanya pada aspek-aspek kebutuhan bendawi, kesejahteraan badan semata.

Lupa Allah. Lupa kewajiban pada-Nya. Lupa nilai-nilai agama. Lupa etika. Pada puncaknya adalah lupa pada diri sendiri. Lupa pada posisi dirinya dalam jagad ini.

Tetapi manusia bukan makhluk materi semata. Ia adalah juga makhluk ruhani. Materialisme duniawi yang dicarinya tidak selalu memuaskannya. Pada puncak, ketika dunia seolah telah digenggamnya, ia tidak selalu memuaskannya. Bahkan kadangkala ia mencari-cari makna, arti yang lebih dalam dari itu semua. Ada saat-saat dimana kebutuhan itu muncul, walau kadang kita abaikan.

Hidup yang tidak diperiksa, direfleksikan, tidak layak dijalani. Begitu kata Socrates.

Ibadahlah yang sesungguhnya dapat memuaskan dirinya. Karena ia tahu diri, dalam posisinya. Karena ia tahu di mana muara kehidupannya. Dunia dapat tetap digenggamnya, dalam terang ibadah kepada Tuhannya.

One thought on “Tergerus Rutinitas  Duniawi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s