Antara Relawan Gaza dan Artis Indonesia

Pekan ini kita disuguhi kejadian-kejadian yang menghentak kesadaran kita. Pertama, pulangnya sebagian relawan Gaza yang sebelumnya ditangkap oleh tentara Israel. Kedua, fenomena tersebarnya video porno yang diduga melibatkan beberapa artis negeri kita. Dua fenomena yang kontras satu dengan yang lain. Yang pertama rela mempertaruhkan nyawa untuk sebuah misi kemanusiaan. Yang kedua terseret pusaran arus dasyatnya dunia maya mengaduk-aduk aib-aib pribadi.

Kita belajar dari dua kejadian itu, bahwa hidup sesungguhnya adalah pilihan. Pilihan itu ditentukan oleh ide-ologi yang masuk dalam jiwa kita.

Fenomena ini juga mengingatkan kita pada apa yang ditulis oleh Syaikh Ahmad Rasyid dalam Shina’atul Hayah (Engineerin Kehidupan, Life Making). Bahwa salah satu bagian aqidah (keimanan) yang perlu kita pahami adalah bahwa setiap kebaikan, ketaatan maupun dosa, kemaksiatan yang kita lakukan balasan maupun hukumannya tidak semata-mata ada di akhirat nanti, tetapi juga ada di dunia ini (selama kita hidup). Walaupun kita tidak dapat memastikan kapan waktunya. Hidup yang baik telah dijanjikan bersama dengan iman. Hidup yang sempit telah dijanjikan bersama dengan abainya kita terhadap peringatan-peringatan Tuhan.

Semangat yang menular, simpati, penghargaan maupun do’a-do’a baik bagi para pejuang kemanusiaan; barangkali adalah salah satu bentuk balasan Tuhan di dunia ini. Caci maki, umpatan, laknatan, tersingkapnya aib-aib pribadi; barangkali adalah salah satu bentuk hukuman Tuhan di dunia ini.

Kenapa orang begitu suka dengan gosip maupun isu-isu negatif yang menimpa seseorang ? Seorang psikolog pernah mengungkapkan sebuah alasan. Bergosip (apapun bentuknya — mungkin hanya sekedar menikmati siaran atau membaca berita-berita buruk orang –) seringkali memberi rasa superior pada diri seseorang. Sebuah perasaan yang hendak berkata, ‘Tu kan dia seperti itu ! Lihat !’. Sebuah perasaan yang juga hendak mengungkapkan, ‘Aku dong tidak seperti itu !’

Lintasan peristiwa yang muncul pekan-pekan ini tentu saja mengajak kita belajar untuk memperbaiki diri kita. Jika aib kita ditutupi Tuhan, bersyukurlah kita. Semoga kita bisa lebih dekat kepada-Nya. Lebih dapat menambah kebaikan-kebaikan kita, sekecil apapun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s