Anak, Antara Kebahagiaan dan Ke-getir-an

Hadirnya anak dalam kehidupan sepasang kekasih, suami istri, selanjutnya akan merubah relasi hubungan antar mereka. Tahap awalnya, relasi romantis sepasang kekasih perlahan akan di-netralisasi oleh kehadiran anak. Rasa melambung berdua, akan dibumikan oleh kerepotan, berbagi tanggung jawab, berbagi kelelahan, berbagi kesibukan. Apakah berbagi berbagai hal ini di-share secara seimbang, diterima dengan penuh ketulusan adalah tantangan tersendiri. Awal-awal memiliki anak, sebenarnya adalah masa-masa rawan konflik antara sang suami dan istri. Inilah ujiannya. Apakah relasi-relasi yang kita bangun selanjutnya membahagiakan kita atau justru menggetirkan kita, adalah pilihan. Semakin bertambah jumlah anak, jaringan relasional bersama semakin kompleks, dan semakin penuh tantangan.

Anak akan berkembang seturut waktu. Perubahan-perubahan akan kita dapati pada mereka. Setiap fase akan memiliki tantangannya sendiri. Bagaimana kita membangun relasi yang tepat dengan mereka, akan menentukan kebahagiaan atau kegetiran diri kita atau mereka. Anak yang dibesarkan dengan aura kemarahan, boleh jadi akan menjadi pembangkang yang pada akhirnya membuat kita bersedih. Ah, betapa banyak kita mendapati pelajaran-pelajaran di sekitar kita. Lihatlah anak-anak SD, SMP, SMA yang sudah berani merokok, berkata kotor, pandai memaki, mengumpat, tawur di jalan, acuh terhadap ibu. Bagaimana itu bisa muncul ? Betapa getir yang dirasakan sang Ibu atau ayah ! Atau lihatlah, anak-anak yang meringkuk di rumah setiap hari, mendapat banyak umpatan, makian, cacian dari orang tua mereka. Betapa sedih dan getir perasaan mereka atas relasi yang dibangun bersama dengan orang tuanya !

Semakin dewasa anak, tantangan relasional antara kita dan mereka menjadi lebih kompleks. Bisa jadi kegagalan relasi yang membahagiakan kedua pihak akan membuahkan kegetiran, entah di pihak orang tua atau di pihak sang anak. Ada anak (yang sudah dewasa) yang enggan untuk berjumpa, bertandang, berkomunikasi dengan orang tua mereka, karena pengalaman tidak membahagiakan dengan mereka (relasi ketidak-adilan yang dialami, relasi ketidak-percayaan atau tuntutan idealistik yang tidak memperhatikan keterbatasan si anak). Rasa getir sang anak, kadang bertemu dengan rasa enggan orang tua untuk memulai harmonisasi karena merasa lebih tua, lebih banyak pengalaman, lebih superior. Arah sebaliknya juga banyak kita temui, di sini kegetiran adalah rasa yang mengeram dalam jiwa orang tua; sedang sang anak acuh, menuntut banyak pada orang tua (yang melampaui kemampuan orang tua), kadang mewujud dalam sikap kasar terhadap orang tua. Sungguh tantangan yang besar !. Saya teringat pesan orang tua seorang teman, satu kali ketika sedang berbincang-bincang ia mengungkapkan, “Satu hal yang diinginkan orang tua (yang membahagiakannya), jika anak bisa rukun dengan saudara-saudaranya (sekandung)”

Punya anak balita !. Tanggung jawab mendidik mereka menjadi sangat besar. Inilah tantangan orang tua. Saya, anda dan kita semua, orang tua baru (baru setahun, dua, tiga atau baru sepuluh tahun). Karena proses perkembangan anak kita masih sangat lama. Relasi seperti apa yang kita harapkan antara kita dan mereka, tentu saja relasi yang membahagiakan kita dan mereka. Bukan relasi kegetiran. Mendidik memang bukan perkara mudah. Menanamkan nilai agar tidak sekedar dihafalkan tetapi menjadi karakter hidup anak, adalah makna mendidik sejati. Semoga kita dapat memulai dari sekarang, dengan kerja-kerja bermakna bagi kita dan mereka. Jadi teringat nasihat si Gibran berikut :

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu

Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu
Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri

Engkau bisa merumahkan tubuh mereka tapi bukan jiwa mereka,
Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi

Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu
Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu

Robbana Hablana Min Azwajina, Wa Dzurriyatina Qurrata A’yun, Waj’alna Lil Muttaqina Imama

One thought on “Anak, Antara Kebahagiaan dan Ke-getir-an

  1. Assalamualaikum akh abu marwa… ‎​سُبْحَانَ اللّهُ, tulisan yg menyentuh, pengingat diri kita sebagai orang tua..juga jangan lupa diri kita sebagai anak. Walau sudah lama tidak bersua wahai kawan, setidaknya kita bersua dalam pemikiran dan renungan.
    Ane jadi ingat pengalaman seorang dai amerika, yusuf estes, seorang mualaf bekas pendeta, anak perempuannya sudah lama menjadi narkobais. Setelah masuk dalam agama islam, beliau mencoba sabar dan merawat orang tua beliau yg sudah pikun. Dan beliau menyaksikan, saat ia birrul walidain maka anaknya sendiri bertaubat dan membangun relasi yg baik dgnya. Rupa2nya ada hubungan antara perlakuan diri kita pada orang tua dg baiknya relasi diri kita dg anak kita, wallahualam.
    Ini memang ujian besar dan memang anak itu cobaan buat kita (qs taghabuun 15), jangankan kita, bahkan ada nabi2 yg merupakan manusia pilihan gagal menjalin relasi dg sang anak spt nabi nuh misalnya. Tapi fitrahlah yg menyebabkan kita mencintai anak (ali imraan 14) walaupun itu adalah kesenangan dunia semata. Tugas kita adalah berhijrah dari posisi anak sebagai kesenangan profan menjadi amanah yg diproyeksikan utk keabadian (akhirat).
    Ali ibn abi tholib pernah berkata : 7 tahun pertama perlakukan anak seperti raja, lalu 7 tahun lagi sebagai tahanan, 7 tahun berikutnya sebagai sahabat. Artinya sebagai ortu kita harus pintar menjalin relasi secara dinamis, saat balita atau bawah 7 tahun, sang anak diberi kebebasan utk bereksperimentasi, berilah operan2 positif ketimbang negatif (spt hukuman). Dan saat 7 thn berikutnya, kita harus tahan nafsunya, ini masa abg, kedewasaan biologis belum tentu disertai kedewasaan batin, perlu bimbingan dan pengawasan ortu seperti tahanan. Inilah mengapa rasul menyuruh kita memukul anak pada umur 10 thn jika tidak sholat. Dan akhirnya saat 7 tahun terakhir, barulah kita harus berperan sebagai sahabat utk anak kita, kita harus hargai pendirian2nya dan mau mendengar pendapatnya, sambil memberi input masukan baginya dalam mengambil keputusan dalam hidup, jangan diktatorial.. Pertanyaannya mampukah pada saat itu kita jadi “teman dekat” sang anak.. Bukan sebagai orang asing yg tinggal di dunia berbeda.. wallahualam

    Sungguh diantara istri dan anak kita terkadang ada yg menjadi musuh bagi diri kita (at taghabuun 14) maka kita harus waspada, dan walaupun berat harus bisa memaafkan, tidak memarahi dan mengampuni mereka.

    Sanggupkah diri kita kawan??…wallahualam. Hasbiyallahi wa nikmal wakiil, nikmal maula wa nikmannashiir

    Wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s