Membumikan Imajinasi Idealistik Kita Atas Sejarah

Bagi mereka yang terlibat dalam organisasi dakwah Islam (lembaga dakwah sekolah maupun kampus) maupun mengikuti pola pembinaan dalam stelsel tarbiyah di masyarakat, sejarah kehidupan para sahabat merupakan paradigma yang menjadi kerangka acuan untuk membentuk kehidupan Islam mereka. Kisah-kisah para sahabat dan orang-orang saleh yang mengikuti mereka (para tabi’in) merupakah sumber semangat, inspirasi dan pencerahan dalam upaya menerapkan kehidupan Islami secara total. Kisah pengorbanan Mus’ab bin Umair, kisah ukhuwah Abdurrahman bin Auf, kisah ketaatan para muslimah di Madinah mengenakan jilbab, kisah infaq Abu Bakar, kisah sang Khalifah Umar yang melakukan ispeksi malam hari dan ratusan kisah lainnya menjadi telaga inspirasi untuk menguatkan tekad meniti kehidupan yang penuh perjuangan.Para sahabat adalah teladan. Ini satu keniscayaan. Karena merekalah generasi terbaik umat ini.

Tetapi, imajinasi kita terhadap kehidupan para sahabat (atau sejarah Islam secara umum) seharusnya tetaplah membumi berdasarkan fakta-fakta yang valid, agar ketika kita membandingkan kehidupan mereka dengan kehidupan kolektif kita (dalam organisasi) kita tidak mengalami kejutan yang membuat kita menjustifikasi apa yang terjadi dalam organisasi kita sebagai penyimpangan fatal dari pola yang digariskan oleh kehidupan para sahabat. Imajinasi kita perlu dibumikan dengan fakta-fakta agar tidak menjadi idealistik, dalam arti mengimajinasikan kehidupan mereka (sejarah mereka) tanpa pertentangan, tanpa konflik, tanpa kejadian-kejadian yang merepresentasikan kelemahan manusiawi, tampak tak ada masalah.

Ada orang yang tidak dapat menerima bahwa ada perbedaan pendapat yang muncul dalam satu organisasi (lembaga dakwah ataupun partai dakwah), tidak dapat menerima adanya kasus-kasus yang berujung pada pemecatan, tidak dapat menerima kalau ada yang berbeda dalam performance individu (secara sosial, politik maupun ekonomi). Alasan yang kadangkala dimunculkan dalam contoh-contoh dalam kehidupan teladan para sahabat tidak seperti itu. Dalam imajinasi sebagian orang kehidupan utama (seperti yang diteladankan oleh generasi pertama umat ini) adalah kehidupan tanpa konflik, tanpa pertentangan, penuh dengan aura perjuangan, penuh pengorbanan, saling toleran. Pendeknya imajinasi yang dibangun dari harapan-harapan kita semata.

Sesungguhnya, alasan seperti ini tidak dapat dipertahankan validitasnya. Pada kenyataannya kehidupan utama, seperti yang dicontohkan para sahabat, tidaklah sepi dari perbedaan pendapat, pertentangan, bahkan mungkin saja meruncing sampai tingkat peperangan. Ada kisah orang yang lalai, ada kisah orang yang kasar tutur katanya, ada kisah orang yang pemarah, ada kisah orang yang memiliki kegemaran eksentrik (makan biawak misalnya), ada kisah pemecatan, ada kisah kemiskinan, ada kisah kekayaan, ada kisah orang berhutang, ada kisah permusuhan, ada kisah peperangan. Semuanya tercatat dalam sejarah. Imajinasi kita mengenai mereka haruslah menyangkuta sisi-sisi ini pula. Apakah kemudian mereka kehilangan keutamaan karena adanya ini semua ? Tidak. Mereka tidak cacat moral karena sebab-sebab ini. Karena inilah kehidupan nyata, kehidupan sosok manusia dan sesama manusia. Kehidupan darah dan daging.

Apalagi jika kehidupan itu sudah membentuk sebuah lembaga formal, menjadi sebuah negara berdaulat misalnya. Dihadapkan oleh kenyataan seperti itu, di mana mekanisme aturan formal sudah diadakan, munculnya pembangkangan maupun munculnya kepemimpinan baru yang mengklaim memiliki otoritas formal (negara) — dan mereka masih tetap sebagai muslim — jika terjadi pemecatan, penghukuman, bahkan peperangan; apa yang mau kita katakan terhadap mereka ? Itulah kenyataan sejarah.

Jadi perlulah kita membumikan imajinasi sejarah kita melalui fakta-fakta sejarah yang ada, agar kita tidak mudah terkejut, kaget terhadap fenomena-fenomena sosial, politik, ekonomi dalam organisasi yang berjalan diluar imajinasi harapan kita. Bukan berarti tidak perlu adanya kritik atau nasihat. Itu adalah kewajiban maupun kebutuhan yang perlu didayakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s