Membumikan Imajinasi Idealistik Kita Atas Kader

Menjadi kader (dakwah, tarbiyah) adalah pilihan sadar untuk membentuk diri berdasarkan standar tertentu. Para kader dalam satu organisasi berbagi standar itu untuk menilai satu dan yang lainnya. Melalui standar pengetahuan, perilaku maupun kebiasaan itulah kadang imajinasi harapan kita terhadap seseorang (yang disematkan atribut kader) dibangun.

Kadangkala imajinasi kita atas mereka menjadi semacam imajinasi kesempurnaan seorang kader. Harapan kita atas mereka, mengharapkan tidak ada cacat yang dapat ditemukan.

Tetapi kenyataan dapat berkata lain. Ketika kenyataan dan standar menjadi berbeda, kita pun menjadi terkejut dan mencoba mengingatkan kembali standar itu dengan mendaftar kalimat “seharusnya”. Seharusnya dia datang tepat waktu. Seharusnya dia membantu saya yang sedang kesusahan, bukankah begitu adab ukhuwah. Seharusnya dia tidak berkata kasar. Seharusnya dia tidak egois. Seharusnya seorang kader itu aktif. Seharusnya. Seharusnya.

Hingga ketika ungkapan-ungkapan seharusnya sudah menjadi rutin dan tidak merubah keadaan, kita menjadi apatis dan menyerah pada keadaan. Kita menjadi bersikap romantik. Terjerat nostalgia masa lalu yang indah, ketika bayang-bayang harapan bertemu dengan kenyataan.

Tapi itulah kenyataan hidup. Selalu ada perubahan dalam kehidupan. Selalu ada perubahan dalam diri seseorang. Ketika para kader masih sebagai siswa atau mahasiswa, menjadikan hari-harinya penuh dengan aktivitas dakwah dan tarbiyah (yang kadangkala juga bisa jatuh sebatas dari rapat ke rapat) adalah hal yang relatif lebih mudah. Ketika para kader mulai bekerja, mulai berkeluarga, mereka menghadapi kompleksitas permasalahan baru. Permasalahan yang dulu tidak menjadi perhatian utama para kader siswa atau mahasiswa. Problem mencari nafkah, problem hubungan suami istri, problem mendidik anak, problem anak mulai sekolah, problem hubungan kelurga besar, problem dapur, dan macam-macam pernih problem yang muncul. Pada sisi lain ia tetaplah seorang kader, ada baku standar yang dia acu. Di sini kita bertemu dengan kompleksitas permasalahan yang perlu diurai dan diselesaikan. Kadangkala sebagian kader juga mengalami dilema. Sementara uang bulanan mesti dicari, di sisi lain ia diminta terlibat aktif dalam kegiatan dakwah di daerahnya, di sisi lain kelemahan untuk mencari sumber-sumber penghasilan juga dialami.

Pada titik-titik ini kita tidak lagi bisa memenuhi tuntutan “seharusnya” secara sempurna. Seorang akhwat yang dulu menjadi aktivis. Ketika sudah menikah, kemudian memiliki anak, mungkin lebih dari satu, tidak bisa dituntut menjadi aktivis seperti dulu lagi. Ketika tuntutan-tuntutan untuk menjadi aktivis memiliki kerangka atau pola seperti dulu; ini adalah tuntutan yang sulit untuk direalisasikan secara sempurna. Ada anak yang mesti diberi perhatian. Ada anak yang mesti dididik. Ada urusan rumah tangga yang mesti diselesaikan. Sehingga yang perlu adalah membangun modus baru menjadi aktivis, sesuai dengan batasan-batasan yang dialaminya. Apakah kita sudah merumuskan modus baru itu ?

Hidup selalu berubah. Problem-problem yang dihadapai kader adalah problem yang juga dialami orang pada umumnya. Setiap orang akan mengalami dialektika antara harapan dan kenyataan. Tidak semua kejadian berjalan sesuai dengan harapan kita. Tidak semua orang (bahkan kader) dapat menyelesaikan masalah-masalah itu secara maksimal, sesuai dengan idealitas yang diharapkan. Pada titik-titik itu kita bisa saja mendapati kasus-kasus atau fenomena yang merupakan fenomena sosial -kemasyarakatan- pada umumnya. Ada kasus dis-harmonisasi hubungan suami istri. Ada kasus percekcokan. Ada kasus kenakalan anak-anak. Ada kasus perceraian. Ada kasus permusuhan. Ada kasus hutang. Dan banyak lagi. Hal-hal yang bisa saja ditemui di kalangan kader (dakwah). Hal yang menjadi tantangan adalah ketika menggulirkan program-program organisasi, adakah ia menyentuh pula problem-problem ini untuk dibicarakan dan dibantu pemecahannya ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s