Kenapa Kita Takut ke Dokter ?

Sepulang dari acara silaturahim alumni Rohis 68 angkatan 1997 kemarin saya langsung diajak oleh adik saya untuk menjenguk paman saya yang tengah dirawat di Rumah Sakit Husada. Beliau mengidap tumor yang perlu dioperasi di sekitar leher. Ketika dokter menanyakan sudah berapa lama tumor itu diidap, paman saya menjawab sudah 10 tahun. Kenapa tidak ke dokter dari dulu-dulu ? tanya dokter itu.

Ya, kenapa tidak ke dokter, jika sakit ? Ini pertanyaan yang tampaknya mudah untuk menjawabnya. Tapi, ternyata ini adalah fenomena yang agak rumit dan menarik.

Ketika anak kita tiba-tiba mengeluh pusing, demam mencapai 39 derajat, setiap mulai makan justru muntah-muntah. Sebagai orang tua apa yang akan kita lakukan ? Di tengah kepanikan, solusi kita biasanya adalah segera membawa ke dokter atau ke rumah sakit. Tetapi jika kita sendiri yang mengalami keluhan itu, apa yang kita lakukan ? Jika ada yang menganjurkan ke dokter, umumnya kita bisa saja menjawab “nanti juga sembuh sendiri”. Sebisa mungkin, biasanya,  kita menghindari dokter. Jadi jika orang dekat kita (anak, istri, orangtua, saudara) sakit, kita berusaha agar mereka segera sembuh dengan membawa mereka ke dokter (atau mengajurkan dengan sangat) sesegera mungkin untuk mendapatkan pertolongan. Tetapi jika kita sendiri yang mengalami gejala-gejala sakit tertentu, kita cenderung untuk menghidari dokter.

Bukan cuma kita saja yang berperilaku demikian. Orang tua kita juga biasanya demikian. Jika mereka sakit, kemudian kita mengajak mereka untuk ke dokter, biasanya mereka akan menghindar. Alasannya, nanti juga sembuh. Cuma masuk angin biasa saja. Minum ramuan ini,  minum jamu ini nanti juga sembuh. Dan banyak alasan lain yang muncul.

Apakah ini fenomena umum kita jumpai ? Mungkin saja.

Apa motivasi kita untuk menghindari dokter ? Bisa biaya. Bisa juga tidak ingin merepotkan orang lain. Tapi motivasi ini, bisa jadi hanya masalah sekunder.

Ketika kita menjumpai dokter sesungguhnya kita membongkar asumsi-asumsi kita terhadap diri kita. Asumsi bahwa sebenarnya kita sehat-sehat saja. Asumsi kita tidak memiliki penyakit. Asumsi-asumsi yang sebenarnya tidak memiliki dasar yang kokoh. Karena memang kita tidak memiliki basis pengetahuan yang cukup mengenai penyakit dan cara bagaiman tubuh kita bekerja. Menjumpai dokter, mengonsultasikan kondisi tubuh kita kepadanya tampak sebagai proses untuk menampakkan realitas sesungguhnya kondisi tubuh kita kepada kita sendiri. Dan ini yang, mungkin, tampak menakutkan bagi kita. Kita takut untuk mengakui kenyataan, takut untuk berjumpa dengan realitas yang sesungguhnya, takut untuk menerima keadaan tubuh kita.

Alih-alih mengonsultasikan tubuh kita kepada dokter, kita memilih untuk menghidarinya. Agar pengetahuan itu tidak mengharu biru perasaan kita. Agar pengetahuan itu tidak menelanjangi kesalahan asumsi kita. Agar realitas tenggelam dalam lautan “ketidaktahuan” kita. Akar kita tetap merasa aman dan tenang, seolah tidak ada yang salah dan bermasalah.

Hingga, kemudian sampailah realitas itu menampakkan secara paksa kepada kita, karena kita sudah tidak berdaya untuk memanipulasinya.

Benarkah seperti ini motivasi dasarnya ? Perlulah kita refleksikan masing-masing. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s