Cermin Cinta Yang Retak

Ini adalah kisah nyata. Seorang perempuan paruh baya mengidap sakit. Riwayat keluarga menunjukkan ia mengidap diabetes. Sakitnya kemudian berkembang menjadi komplikasi. Ketika ia terus sakit-sakitan, dirasakannya kasih-sayang sang suami tidak seperti dulu lagi. Alih-alih dukungan agar cepat sembuh, justru makian yang sering ia terima. Puncaknya terjadi beberapa hari lalu. Sakitnya makin gawat, ia kukuh tidak mau dibawa ke Rumah Sakit. “Jika harus meninggal, biarlah saya meninggal di rumah saja.” Keluarganya kemudian memaksanya membawa ke rumah sakit. Tetapi tidak lama kemudian ia meninggal. Menjelang ia meninggal ia sempat berkata pada suaminya, “Kamu senangkan saya mati !”.

Jika cinta dimaknai sebatas perasaan yang membuncah karena pesona kecantikan, maka satu waktu pesona kecantikan itu akan memudar. Jika cinta dimaknai sebatas daya tarik seksual, seturut waktu daya tarik seksual itu akan perlahan menurun. Saat-saat sakit, saat-saat ketidakberdayaan menghampiri orang yang kita cintai adalah saat-saat ujian cinta kita.

Cinta tidak sekedar perasaan. Ia juga sebentuk tindakan. Tindakan mensyaratkan pilihan. Pilihan membawa pertanggung-jawaban. Kemampuan dan kemauan untuk merespon kebutuhan orang yang kita cintai. Cinta sebagai tindakan membawa asah, asih dan asuh bersama orang yang kita cintai. Cinta sebagai tindakan membawa harapan. Harapan memberi energi bagi orang yang kita cintai.

Cinta perlu waktu untuk matang. Benih perasaan perlu ditumbuh-kembangkan. Cermin cinta yang retak, bisa menjadi cermin kita untuk belajar lebih untuk mematangkan cinta.

Berikut ini kisah cermin cinta yang jernih. Ini juga adalah kisah nyata. Sepasang anak muda (usia dua puluhan) melangsungkan pernikahan. Selang beberapa bulan sang istri hamil. Menjelang kelahiran sempat terlontar kata-kata dari sang istri, “Mas, jika nanti aku meninggal, mas tolong nikah kembali ya !”. Saat kelahiran tiba. Sang suami menemani sang istri. Sang anak lahir normal. Sempat menyusui sebentar, sang bunda kemudian tertidur untuk selama-lamanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s