Komunikasi Anak Berbasis Kemarahan

Dunia anak adalah dunia permainan. Bermain bagi anak adalah mengasyikkan. Tak kenal waktu untuk bermain. Kapan mau main, main. Bangun tidur, menjelang tidur, siang maupun malam, di rumah maupun di perjalanan, di lapangan maupun di kamar; tak ada halangan untuk bermain. Semuanya serba mengasyikkan.

Dunia orang tua (manusia dewasa pada umumnya) adalah dunia penuh keseriusan. Hampir semua dipandang secara serius. Dunia orang dewasa adalah dunia penuh kerja. Ada kerja, ada imbalan. Ada usaha, ada balasan.

Dunia anak adalah dunia kreatif, dunia imajinatif. Rumah bisa berubah menjadi galeri seni. Tembok penuh coretan aneka warna. Pintu kamar bisa berubah menjadi tempat menempel kertas-kertas lukisan warna-warni atau orang dengan kepala besar dan kaki mungil. Bantal dan guling bisa berubah menjadi kuda tunggangan. Kain sarung bisa berubah menjadi tenda untuk berteduh.

Dunia orang tua (manusia dewasa pada umumnya) adalah dunia linier, penuh keteraturan. Keinginannya adalah rapi disemua sisi. Dunia keteraturan di mana-mana. Kamar harus rapi dan resik. Ruang tamu harus bersih dan rapi. Pokoknya semua harus berada dalam posisinya.

Dunia anak adalah dunia dialogis, dunia penuh keingin-tahu-an. Semua bisa dijadikan bahan pertanyaan. Kenapa ? Mengapa ? Kenapa tidak ? Kok begini ?

Dunia orang tua (manusia dewasa pada umumnya) adalah dunia perintah, dunia ketaatan, dunia command. Kamu harus menurut. Kamu harus begini. Kamu harus.. kamu harus… Dunia penuh dengan tuntutan. Dunia reward and punishment.

Begitulah. Dua dunia ini bertemu dalam keluarga, bertemu dalam latar rumah kita. Pertembungan dua dunia ini acap kali berjalan tidak seimbang. Kita (orang tua, orang dewasa) cenderung untuk memaksakan dunia kita pada anak. ‘Abi ini kok sukanya maksa sih !’ Jika anak tidak patuh pada dunia kita, dan kita kehabisan energi untuk berlaku sabar, jadilah kita meminjam kemarahan untuk menaklukkan mereka. Melalui bentakan, melalui ancaman, melalui hukuman psikologis kita berusaha menegakkan keteraturan, tata, order. (Atau sekedar menegakkan kegagahan kita sebagai orang tua). ‘Kamu ini sudah besar kok gak ngerti-ngerti juga sih !’.

Anak harus mengenal keteraturan ! Tentu saja. Anak harus berdisiplin ! Tentu saja. Anak harus mengerti ! Tentu saja. Tapi, pola pendekatan penuh kemarahan, barangkali justru bisa menyiutkan nyali, menyiutkan dunia, menyiutkan kreatifitas-imajinasi mereka. Alih-alih menegakkan keteraturan, justru sebenarnya kita gagal untuk mengimbangi dunia dialogis mereka.

Kemarahan. Jujur saja, tidak mudah untuk kita kendalikan. Pada tingkat tertentu ia bisa dinetralisasi oleh pengetahuan maupun nilai-nilai yang kita yakini. Pendidikan kita, pengetahuan [ terkait dengan tumbuh kembang anak ], aspek kognitif, kita dapat menetralisasi pada tingkat tertentu kemarahan kita. Keterlibatan kita dalam pendidikan informal, tarbiyah, tertanamnya nilai-nilai dalam diri kita juga pada tingkat tertentu dapat menahan kemarahan kita. Tetapi ketika kita dilamun oleh kelelahan. Lelah kerja. Lelah karena aktivitas rumah tangga. Lelah fisik maupun psikologis. Tak mudah kita mengendalikan kemarahan, walaupun kita seorang sarjana ataupun aktivis tarbiyah yang sudah lama melalang buana.

Lalu bagaimana ? Barangkali ini sinyal bagi kita untuk lebih bisa mendidik diri kita sendiri. Bersama anak kita mendidik diri sendiri. Allahumma alhimni rushdi wa a’ izni min sharri nafsi. Ya Allah inspirasikan padaku kecerdasan (petunjuk untuk menjalankan kebenaran) dan jauhkan aku dari keburukan nafsu-ku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s