Isra Mikraj dan Ilmu Pengetahuan Modern

Peristiwa isra’ dan mi’raj merupakan peristiwa yang menggemparkan pada saat itu. Pengakuan Muhammad (S.A.W) menjadi bahan pembicaraan masyarakat Quraisy. Tuduhan gila atas beliau mungkin semakin intensif dan masif. Ada juga yang ragu mendengar berita beliau ini.

Karena peristiwa ini merupakan peristiwa yang di luar batas nalar, banyak orang (bahkan sebagian ulama) yang mencoba menafsirkan peristiwa ini agar dapat di-nalar. A. Hasan menyebutkan ada beberapa pendapat mengenai peristiwa ini, tentang apakah Rasulullah di-isra’-kan dan di-mi’raj-kan dengan badan (wadag) atau tidak.

  1. Rasulullah di-isra-kan dan di-mikraj-kan dengan badan halus
  2. Rasulullah di-isra-kan dan di-mikraj-kan hanya ruh-nya saja
  3. Rasulullah di-isra-kan dan di-mikraj-kan melalui penglihatan (vision) saja
  4. Peristiwa isra’ dan mi’raj hanyalah mimpi semata
  5. Rasul Isra dengan badan dan ruh-nya sedangkan mikraj hanya ruh-nya saja
  6. Rasulullah di-isra’-kan dan di-mi’raj-kan dengan badan dan ruh-nya (sekaligus, manusia lengkap)

Melalui analisis terhadap ayat-ayat Al Quran dan hadist-hadist terkait dengan peristiwa ini A.Hasan menyimpulkan bahwa pendapat ke -6 (bahwa Isra dan mikraj Rasulullah adalah peristiwa aktual, nyata dengan badan dan ruh sekaligus) adalah pendapat yang sahih, valid.

Kemudian, dapatkah Ilmu Pengetahuan Modern (Sains) mengafirmasi hal ini ?

Mungkin banyak teori ilmiah yang dapat digunakan orang untuk menerangkan peristiwa ini. Tetapi bisa dipastikan banyak juga yang akan membantahnya. Bagi Sjafruddin Prawiranegara, mereka yang mencoba men-justifikasi peristiwa Isra Mikraj dengan teori-teori ilmiah (saintifik), tidak memahami secara dalam hakikat ilmu pengetahuan modern.

Tetapi pada umumnya semakin maju ilmu pengetahuan dan teknologi semakin terdesak kepercayaan mereka terhadap agama. Demikian pula dengan peristiwa Isra dan mikraj ? Banyak yang mungkin mulai meragukan peristiwa itu, seturut interaksi mereka dengan ilmu pengetahuan (atau pemikiran) modern.

Dapatkah sains digunakan untuk membuktikan peristiwa Isra dan Mikraj ?. Sjafruddin Prawiranegara, dalam karangannya Isra’ dan Mi’raj Ditinjau Dari Sudut Wetenschap, menyatakan bahwa memang secara rasional tidaklah dapat dilakukan pembuktian ilmiah mengenai peristiwa Isra dan Mikraj ini. Apalagi hanya dengan sekadar men-justifikasi melalui teori-teori fisika yang tentatif (dapat digugurkan kelak, jika ditemukan teori baru yang lebih komprehensif menerangkan fenomena alam).

Walaupun demikian, menurut Sjafruddin Prawiranegara, bisa saja ilmu pengetahun (modern) digunakan untuk membantu memahami peristiwa Isra dan Mikraj, tetapi bukan dalam arti positif (menguji peristiwa ini dengan teori-teori fisika modern). Yang dapat dilakukan adalah menguji secara negatif, dalam arti menguji kemampuan akal itu sendiri (dalam bahasa Kant bersikap kritis terhadap akal).

Perkembangan Ilmu Pengetahuan modern saat ini (sebagaimana terefleksi di dunia Barat) yang pokok adalah yang empiris (nyata dalam pengalaman). Ilmu pengetahuan empiris, dalam bentuk positivisme kemudian membentuk sikap atau pandangan hidup yang materialistik. Materialisme merupakan pandangan bahwa kenyataan substantif dunia ini adalah materi, bahwa alam dan masyarakat pada dasarnya adalah refleksi dari perkembangan materi semata. Tentu saja materialisme ini memiliki nuansa yang beragam dalam kehidupan peradaban barat (dalam bentuk materialism-historis Marx dan variannya, dalam bentuk kapitalisme-konsumtif maupun yang lainnya).

Bagaimana dengan idealisme, yang mempercayai adanya ruh maupun sesuatu di luar materi. Menurut Sjafruddin Prawiranegara, idealisme dan materialisme barat modern memiliki akar yang sama pada kepercayaan terhadap ‘aku’. Alam pikiran modern adalah alam pikiran yang menempatkan kepercayaan yang sangat tinggi kepada kemampuan ‘aku’ untuk memahami dan menguasai realitas. Sebagaimana diungkapkan oleh dictum Descartes, ‘cogito ergo sum’. Bagi ‘aku’ ini hanya yang jelas dan tegas dalam pikiranku yang bisa dipercayai. Pada ujungnya kepercayaan terhadap ‘aku’ dalam alam pikiran modern inilah yang menghalanginya untuk menaruh kepercayaan kepada sumber pengetahuan selain akalnya (intuisi maupun wahyu).

Dalam konteks ini, seseorang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya sesungguhnya banyak dituntut untuk mengabaikan ‘aku’-nya dengan menerima pengetahuan dari sumber selainya (Allah dan Rasul-Nya). Peristiwa Isra dan mikraj tidaklah dapat dimengerti dengan menggunakan sains. Satu-satunya perangkat yang memungkinkan kita memahaminya adalah keimanan. Jadi masalah isra dan mikraj adalah masalah keimanan.

Inilah yang menjadikan Abu Bakar langsung mengafirmasi secara positif berita Isra dan Mikraj ketika sampai berita ini ? Dalam ungkapa Abbas Mahmud Al Aqqad, Abu Bakar memiliki kecakapan dalam membaca permasalahan. “Sesungguhnya aku telah beriman kepadanya (Muhammad) dalam segala urusan yang datang dari langit (wahyu). Mengapa aku tidak beriman kepadanya tentang hal lain dari itu?”, demikian kata Abu Bakar.

Rujukan

Sjafruddin Prawiranegara, Isra’ dan Mi’raj Ditinjau Dari Sudut Wetenschap, dimuat dalam Islam Sebagai Pandangan Hidup (Kumpulan Karangan Terpilih Jilid I), Inti Idayu Press, Jakarta 1986

Abbas Mahmud Al Aqqad, Keagungan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Pustaka Mantiq, Solo, 1990.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s