[Studi Quran] Interaksi Dengan Al Qur’an Bagi Orang Awam (1)

Apakah Al Qur’an masih relevan bagi kita ? Peradaban modern telah melakukan lompatan raksasa dalam semua bidang kehidupan, masihkah Al Quran yang diturunkan ribuan tahun lalu relevan dengan kehidupan kita saat ini ? Dalam pernyataanya sendiri, Al Quran merupakan kata-kata Allah yang abadi. Sehingga ia tetap memiliki relevansi abadi pula bagi manusia. Sebagaimana ia telah membukakan kekayaannya kepada generasi pertama yang menerimanya. Di sisi lain Al Qur’an tidak tersusun secara kronologis, ini juga memberikan hikmah besar kepada kita akan relevansinya bagi setiap zaman dan tempat.

Jika ia sama relevannya dengan ketika pertama kali diturunkan, bagaimana kita melakukan interaksi yang tepat kepadanya ? Atau, sebagai orang awam, yang tidak memiliki latar belakang ilmu-ilmu syar’i, dapatkah kita mengambil manfaat Al Qur’an untuk kehidupan kita ?  Secara aksiomatis (berdasar keimanan kita), karena Al Qur’an adalah kitab petunjuk bagi manusia, pertanyaan itu harus dijawab dengan ya. Pertanyaannya kemudian, bagaimana kita mengoperasionalkan proses interaksi itu dalam batas-batas keawaman kita ?

Khurram Murad dalam Way To The Qur’an (Edisi Islamic Foundation, terjemahan Bahasa Indonesia. Membangun Generasi Qur’ani terbitan Media Dakwah 1999) memberikan nasihat bagaimana kita dapat berinteraksi dengan Al Qur’an bagi mereka yang berlatar belakang non-syar’i dalam bidang keilmuannya. Beliau mengungkapkan untuk dapat mengambil manfaat besar dari Al Qur’an pertama-tama kita harus memasuki dunia Qur’an sebagaimana Allah berbicara kepada kita. Ini membawa kita pada :

  1. Kita harus menyadari Al Quran sebagai perkataan Allah, dan ia amat berarti bagi kita, dan membawa kekaguman, cinta dan kemauan untuk bertindak merealisasikannya
  2. Kita harus membacanya sebagaimana ia diminta untuk dibaca
  3. Kita harus menjadikan setiap katanya mempunyai pengaruh nyata pada hidup kita sendiri

Al Qur’an menyifati dirinya sebagai sebentuk kasih sayang dari Tuhan. (2:38). Ia adalah senjata penolong kerapuhan diri kita, cara untuk mengobati ketakutan dan kekhawatiran kita. Cahaya untuk menerangi jalan menuju kesuksesan dan keselamatan. Penyembuh bagi penyakit diri dan sosial. Pengingat yang tetap terhadap tujuan dan sifat (karakter) diri kita, dari posisi, pahala dan dosa kita. Diturunkan melalui lisan Nabi yang terpercaya, ia merupakan jalan untuk untuk mendekatkan diri kepada Pencipta kita. Yang perlu diingat selalu adalah bahwa ia adalah perkataan Tuhan.

Interaksi dengan Al Qur’an oleh Al Qur’an digunakan istilah tilawah, yang sering diartikan sebagai membaca. Tilawah, istilah yang digunakan Quran untuk kegiatan pembacaannya berarti mengikuti. Arti membaca muncul dari makna ini (mengikuti) ia berarti menerangkan kata-kata yang berurutan,dan makna yang beralur. Tilawah berarti  berdekatan, berjalan maju, mengalir, bergerak untuk mencapai, mengambil petunjuk, bertindak, berjalan, mempraktekkan dan untuk mengerti.

Partisipasi Internal.Untuk melakukan interaksi dengan Al Qur’an diperlukan partisipasi internal diri kita. Meliputi :

( Kondisi Kesadaran ). 

  1. Katakan pada diri kita : pembacaan Quran-ku tidak benar-benar merupakan tilawah kecuali dengan adanya partisipasi rohaniku di dalamnya
  2. Katakan pada diri kita : aku berada dalam kehadiran Allah, Dia melihatku.
  3. Katakan pada diri kita : Aku mendengarkan dari Allah
  4. Katakan pada diri kita : Allah mengarahkan pembicaran-Nya padaku.
  5. Katakan pada diri kita : Setiap kata dalam Quran diperuntukkan bagiku
  6. Katakan pada diri kita : Saya berbincang deng Allah saat membaca Quran
  7. Katakan pada diri kita : Allah pasti memberiku semua ganjaran yang dijanjikan-Nya melalui utusan-Nya, karena membaca dan mengikuti Qura.

(Tindakan Hati dan Tubuh)

  1. Biarkan hati hidup dan memberi respon teradap apapun yang Quran katakan
  2. Biarkan lidah merespon kata-kata Quran
  3. Biarkan respon hatimu ditumpahkan mellaui air mata (kebahagiaan atau ketakutan) sebagai jawaban pada apa yang dibaca
  4. Ambil sikap tubuh yang merefleksikan penghormatan dan penerimaan diri akan perkataan Tuhan
  5. Membaca dengan tartil
  6. Sucikan diri
  7. Memohon pertolongan, ampunana, petunjuk dan perlindungan saat membaca Quran

 (Aturan Pembacaan)

Seberapa sering kita mesti membaca Al Qur’an ? Setiap hari secara teratur. Seberapa banyak yang harus dibaca ? Bervariasi bagi setiap orang, tergantung maksud pembacaan. Kapan waktu yang tepat ? Setiap saat, walaupun ada waktu-waktu khusus yang lebih berkesan (misalnya pada saat sepertiga malam terakhir -qiyamulail).

Membaca Al Qur’an hendaknya dengan tartil, indah dan merdu. Khatamkan Al Quran beberapa kali dalam satu tahun. Hafalkan Al Qur’an.

….bersambung….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s