Pengantar (Kuliah) Memahami Agama Islam

Kebanyakan perkuliahan Agama Islam pada Universitas umum (jurusan Ilmu Pengetahuan Alam, Sosial, Budaya maupun Teknik) lebih banyak membahas isi ajaran agama Islam itu sendiri. Sedangkan sisi-sisi dialektis antara agama dengan kenyataan sosial (modern) tidak banyak disinggung. Padahal justru relevansi, posisi agama dalam kehidupan, utamanya di era sekarang, merupakan hal penting untuk dipahami. Sikap meremehkan agama yang muncul dalam komentar-komentar bebas (yang cenderung asal komentar, asal ‘njeplak’ kata orang Jawa) dalam forum-forum di internet bisa merupakan tanda terhadap pentingnya orang memahami agama secara lebih mendalam, melalui pendekatan yang lebih intelektual alih-alih pendekatan yang tradisional semata-mata. Sehingga kita dapat memahami persoalan mengenai agama bukanlah persoalan sampingan dalam hidup kita, demikian pula persoalan manusia tidak semuanya dapat dipecahkan melalui ilmu-pengetahuan (sains) maupun filsafat semata-mata.

Setidaknya kita dapat menemukan dua buku pengantar untuk mendudukkan persoalan agama dalam kehidupan. Sebagai permulaan atau pendahuluan untuk mengaji agama secara lebih deskriptif atau normatif. Pertama adalah buku DR. Rasjidi, Empat Kuliah Agama Islam di Perguruan Tinggi. Buku ini merupakan pendekatan pengantar memahami Islam dari sudut filosofis untuk membantu para mahasiswa yang kritis terhadap pendekatan yang tradisional. Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman beliau dalam mengajarkan agama Islam di Fakultas Psikologi dan Kedokteran Universitas Indonesia akhir tahun 60-an dan awal 70-an.

Pokok pertanyaan yang berusaha dijawah oleh kuliah-kuliah ini adalah sebagai berikut :
Apakah agama masih diperlukan oleh manusia modern ? Apakah agama masih relevan dengan kehidupan modern kita ?
Apakah semua agama sama ? Bukankah setiap agama mengajarkan kebaikan ?
Lalu apakah agama itu ? Bagaimana kita mengklasifikasikan agama yang ada di dunia ?
Apa keistimewaan Islam ? Apa beda Islam dengan agama lain ?

Menjawab begitu saja bahwa agama tidak memiliki tempat lagi di dunia serba ilmu-teknologi saat ini adalah sebuah sikap terburu-buru. Agama tetap dianut banyak orang di zaman sekarang, sebagaimana ia banyak dianut di masa lampau. Demikian pula dengan pernyataan bahwa semua agama sama, karena bertujuan sama juga merupakan simplifikasi terhadap perbedaan-perbedaan yang ada pada agama-agama baik pada aspek keyakinan, peribadatan maupun norma.

Pendekatan lain dilakukan oleh E. Saefuddin Anshari. Dalam bukunya Ilmu, Filsafat dan Agama, E. Saefuddin Anshari mendekati persolan agama dari sudut keterbatasan Ilmu dan Filsafat dalam menjawab persoalan-persoalan manusia, sebagai makhluk pencari kebeneran. Bahwa persoalan manusia banyak yang sudah terpecahkan oleh Ilmu, tentu tidak dipungkiri. Tetapi ilmu terbatas pada persoalan empiris. Ilmu mendekati kebenaran secara positif dan eksperimental. Sedangkan persoalan di luar itu (bahkan terkait dengan fondasi ilmu-pengetahuan) diserahkan kepada Filsafat untuk menjawabnya secara spekulatif dan radikal (sampai akar-akarnya). Filsafat dengan akal sebagai alat utamanya tetap meninggalkan banyak hal yang belum terpecahkan secara memuaskan, juga pertentangan fikiran yang cukup banyak. Tidak berarti filsafat tidak berguna. Tetapi persoalan hidup manusia tidak cukup diselesaikan dengan semata-mata menggunakan akal manusia, karena ia sendiri hanya satu bagian dari diri manusia. Agama, yang memulai dari iman alih-alih pertanyaan memberi jalan keluar dari kebuntuan mendapatkan jawaban terhadap persoalan -ultimate/asasi- kehidupan manusia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s