Kebermaknaan Dakwah dan Tarbiyah

Pertama kali kita terlibat dalam aktivitas dakwah dan tarbiyah biasanya diikuti oleh antusiasme yang besar. Setiap kegiatan yang terkait dengan dakwah dan tarbiyah, biasanya kita ikuti dengan keterlibatan penuh. Keterlibatan hati, keterlibatan pikiran maupun tenaga untuk menyukseskan aktivitas-aktivitas itu. Mengikuti aktivitas dakwah dan tarbiyah (dimanapun kita dibesarkan bersamanya) merupakan sesuatu yang bermakna bagi diri kita. Sesuatu yang memberikan arti bagi keberadaaan diri kita. Sehingga kadang sulit dipisahkan antara kita dan dakwah, atau kita dan tarbiyah, karena dia sudah menjadi bagian dari diri kita, ia sudah menjadi identitas kita.

Bagaimana kita menjelaskan kebermaknaan tarbiyah dan dakwah itu ? Ini mungkin hal yang berbeda-beda bagi setiap orang. Sebagian menemukan makna karena merasa mendapatkan tambahan ilmu dalam aktivitas tarbiyah mereka. Sebagian mendapatkan makna karena menemukan keeratan relasi, kesetiakawanan dalam aktivitas tarbiyah dan dakwah mereka. Sebagian menemukan maknanya karena adanya ketenangan bersama dengan teman-teman satu group dakwah dan tarbiyah. Atau sebagian menemukan makna, karena menemukan jodohnya di sana. Yang jelas,  ada banyak penjelasan yang mungkin dikemukakan oleh banyak orang yang telah menemukan maknanya dalam dakwah dan tarbiyah.

Seiring dengan berlalunya waktu. Seiring dengan berubahnya kehidupan kita. Seturut pertumbuhan dan perkembangan jamaah dakwah yang kita ikuti. Kebermaknaan tarbiyah dan dakwah ini kadang terkikis. Setelah sebagian aktivis berumah tangga. Setelah jamaah dakwah ini tumbuh dan berkembang menjadi entitas politik yang membesar. Seturut banyaknya ujian, cobaan atau godaan yang menimpa jamaah dakwah ini. Makna-makna yang kita terobsesi dengannya dahulu menjadi terkikis. Semangat yang hadir dahulu menjadi surut. Keterlibatan yang antusias berubah menjadi keterlibatan setengah hati. Atau mungkin, kemudian kita menarik diri dari aktivitas-aktivitas itu, enggan terlibat kembali. Atau mungkin kita menjadi suka berdiri di luar, menjadi pengamat diam-diam dan tidak lagi menjadi partisipan. Apalagi ketika cobaan besar menerpa jamaah dakwah ini. Saat di mana para kadernya di-bully di mana-mana. Saat masyarakat banyak bertanya-tanya mengenai kelayakan kita untuk dipercaya.

Saat-saat seperti ini, ada baiknya kita secara pribadi menanyakan kembali sebuah pertanyaan, “Untuk apa kita tarbiyah ? Untuk apa kita terlibat dalam dakwah ?”. Jawaban terhadap pertanyaan ini akan memberikan makna bagi keberadaan kita dalam dakwah dan tarbiyah. Jawaban yang kita berikan bukanlah jawaban normatif, yang bisa kita dapatkan dari buku teks dakwah dan tarbiyah. Tetapi jawaban yang berasal dari pemahaman subjektif kita atas dakwah dan tarbiyah, apa maknanya bagi hidup kita, bagaimana kita memberikan makna terhadapnya, dan bagaimana pula ia merubah diri kita.

Jawaban-jawaban terdahulu, yang pada awalnya menstimulasi keterlibatan kita dalam dakwah dan tarbiyah, barangkali tidak mencukupi lagi. Karena adanya perubahan-perubahan yang terjadi terkait dengan status diri maupun status jamaah dakwah ini. Mencari ilmu mungkin bukan alasan yang tepat untuk kelangsungan makna tarbiyah kita, karena mayoritas guru kita bukan mereka yang memiliki kapasitas penguasaan ilmu-ilmu keagamaan yang mumpuni. Walaupun percikan ilmu tetap akan kita dapatkan dalam aktivitas itu. Rasa kebersamaan (ukhuwah), perhatian saudara yang sangat besar terhadap kita, yang dulu kita dapatkan juga bukan jawaban yang tepat saat ini, karena berubahnya status kita. Banyak kader yang disibukkan oleh masalah-masalah domestik (kerumahtanggaan) mereka, sehingga meminta mereka memberikan perhatian ekstra besar kepada diri kita bukanlah hal yang mudah.

Makna adalah sesuatu yang melampaui diri kita. Makna dakwah dan tarbiyah bagi kita harus kita temukan pada sisi-sisi yang melampaui narsisme atau egoisme pribadi kita. Bahwa hadirnya kita dalam tarbiyah ini bukan semata-mata karena tarbiyah saja, tetapi kita hadir bersama dalam sebuah jamaah yang memiliki cita-cita yang melampaui diri kita. Cita-cita yang menggerakkan kita untuk berkontribusi di dalamnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s