Pergulatan Iman dan Materialisme

Hadist menyatakan mereka yang membaca surah al kahfi di hari jumat akan terhindar dari fitnah dajjal. Tentu ada hikmah di sini, mengapa membaca (tentu dalam arti sebenarnya) akan menghindarkan kita dari fitnah dajjal. Apa hikmah membaca surat al kahfi pada hari jumat ? Abul Hasan An-Nadwi menegaskan mengenai tema pokok surat al Kahfi ini adalah pergulatan antara Iman dan Materialisme.

 

Siapa dajjal ? Dajjal adalah siapapun yang menyesatkan pandangan hidup kita. Dajjal bisa berbentuk sebuah ideologi, sistem maupun sebuah peradaban. Sistem yang menyesatkan manusia dari jalan kebenaran merupakan sistem dajjal.

 

Tema pokok al kahfi adalah pertentangan antara iman dan materialisme. Materialisme termanifestasi dalam keyakinan maupun sikap hidup. Keyakinan yang mengingkari eksistensi Tuhan maupun hari akhir serta faktor-faktor kekuasaan Tuhan di dunia ini. Materialisme dalam keyakinan semata-mata meyakini sebab-sebab material dalam fenomena alam dan kehidupan. Tidak ada tempat bagi kemahakuasaan Tuhan dalam fenomena alam atau tiada relevansi hukum moral dalam kehidupan, merupakan pokok utama keyakinan ini. Keyakinan akan kehidupan akhirat ditolak secara tegas oleh keyakinan materialisme. Materialisme dalam tindakan dan sikap termanifestasi dalam tindakan dan sikap mengutamakan kehidupan dunia. Pencapaian kekayaan dan kekuasaan adalah nilai utama. Sikap hidup maupun tindakan materialistik tidak selalu berakar pada keyakinan hidup materialistik pula. Dia dapat muncul dari mereka yang memiliki keyakinan religius, namun nilai-nilai religiusitas itu tenggelam dan dianggap tidak relevan dengan kehidupan yang riel dan nyata.

 

Kisah-kisah yang dimaktubkan dalam surat al kahfi menegaskan sempitnya perspektif materialistik dalam memandang dan menyikapi fenomena kehidupan ini.

 

Kisah Ash-habul Kahfi, kisah mengenai upaya para pemuda yang beriman kepada Allah beberapa kurun setelah wafatnya nabi ‘Isa (Jesus) menyelamatkan iman mereka dengan berlindung ke dalam sebuah gua. Hijrahnya mereka ke dalam sebuah gua untuk menghindari penindasan penguasa zalim. Penguasa zalim yang tidak memahami iman dan tidak menyukai keimanan tumbuh subur di teritorialnya. Allah menidurkan mereka selama 300 dan 9 tahun. Sebuah kuasa Allah. Dalam kekuasaan-Nya sebab-sebab material (alamiah) menjadi hal yang relatif. Ini merupakan kritik terhadap keyakinan materialistik yang memandang bahwa sebab-sebab alamiah akan mengarahkan dunia ini sebagaimana seharusnya, dengan melupakan faktor kuasa Tuhan.

 

Kisah dua orang pemilik kebun, kisah mengenai keangkuhan seorang pemilik kebun yang diberikan kekayaan (pertanian) besar tapi tidak mengakui faktor kekuasaan Allah yang menumbuh-kembangkan semua yang dimilikinya. Kisah mengenai seorang pemilik kebun yang merasa kehebatan (ilmu dan produktifitas-nya) saja yang menjadi faktor utama kesuksesannya. Sikap hidupnya yang penuh kemewahan (berbangga dengan jumlah harta dan anak), dan merasa semuanya akan kekal dan tidak akan dimintai tanggung jawab apapun di akhirat kelak. Petani yang beriman memahami faktor “maasya Allah, la quwwata illa billah” dalam kehidupannya, dalam kesuksesan profesinya dan produktifitas pertaniannya. Kesadaran akan relatifnya nilai kekayaan, harta dan banyaknya anak. Ini merupakan kisah yang halus, kisah betapa seorang yang beriman (beragama) pun dapat terjatuh pada sikap materialistik dalam hidupnya.

 

Kisah Musa dan Khidhir merupakan kisah populer. Sebuah kisah mengenai terbatasnya sudut pandang yang sering kali kita gunakan dalam memahami atau menilai fenomena kehidupan. Apa yang kita ketahui, kadang hanya merupakan zahir-nya saja dari kehidupan dunia ini. Kisah ini menegaskan perlunya kita memiliki kerendahan hati untuk mengakui keterbatasan pandangan empiris kita terhadap kehidupan. Ilmu empiris hanya bergulat dengan alam syahadah (empiris). Sedang yang gaib, tiada kita ketahui kecuali yang diajarkan oleh Allah.

 

Kisah Zulqarnain, kisah mengenai seorang yang diberikan kekuasaan besar tetapi menggunakannya secara bijak dan adil. Kisah mengenai pentingnya memadukan sebab-sebab alamiah (material) dengan visi moral yang bersumber dari keimanan. Sehingga kekuasaannya tidak berubah menjadi dajjal yang menyesatkan dan menzalami banyak orang.

 

(Refleksi atas buku Pergulatan Iman dan Materialisme, Hikmah Surat Al Kahfi. Beberapa waktu lalu (April 2013) saya mendapatkan buku ini di sebuah toko buku loak, setelah sekitar 12 tahun berusaha mencarinya. Pertama kali membaca buku ini di perpustakaan Mesjid UI. Temanya dan pembahasannya yang inspiratif memberi ketertarikan tersendiri).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s