Islam antara Misi dan Metodologi, Pemikiran Ja’far Syeikh Idris

Islam bukan semata-mata sebagai risalah atau misi yang diserahkan kepada kebebasan manusiawi untuk menentukan metode perealisasiannya. Islam juga memberikan panduan metodologis (manhaj) untuk merealisasikan risalahnya dalam kehidupan ini. Untuk memahami aspek metodologis ini, sirah memberikan bimbingannya kepada kita. Dalam sirah kita menemukan perealisasikan Islam dalam berbagai scope kehidupan.

Setidaknya ada dua kutub ekstrim memahami interaksi risalah dan metode ini. Kutub pertama menolak adanya fase-fase dakwah Rasul untuk diterapkan pada situasi kontemporer dengan beralasan sudah sempurnanya Risalah yang dibawanya dan ia harus diterapkan dalam totalitasnya, tanpa penangguhan apapun. Kutub kedua menyatakan, karena situasi kontemporer telah kembali kepada alam jahiliyah maka berlaku kaidah dakwah seperti pada fase awal dakwah Rasul yang berkonsentrasi pada aspek-aspek tertentu dari Risalah (Islam), missal masalah aqidah dan ibadah semata tanpa memberikan jawaban atas masalah hokum atau permasalah sosial masyarakat kontemporer.

Kedua pendekatan ini tidak dapat dipertahankan. Pendekatan pertama, melalaikan fakta penting bahwa Islam adalah risalah sekaligus metode. Cara bagaimana pesan risalah diterapkan adalah bagian dari pesan risalah tersebut. Posisi kedua gagal dalam memahami fakta, bahwa tidak mungkin memindahkan situasi sejarah keseluruhannya dari satu periode kepada masa setelahnya. Setidaknya ini dapat dipahami dari fakta, bahwa pada masa Rasulullah  mereka adalah satu-satunya komunitas Islam di zaman itu, tidak ada yang lain.

Pendekatan yang tepat adalah memahami persamaan maupun perbedaan fase dakwah Rasulullah dengan situasi kontemporer. Jika kondisi kontemporer memang menghendaki, perlulah adanya kelompok terorganisasi sebagaimana kelompok awal didikan Rasulullah. Karena memang Rasulullah tidak membiarkan individu muslim ketika itu lepas-bebas tanpa organisasi.  Tetapi perlulah dipahami perbedaan karakteristik organisasi (jama’ah) kontemporer ini dengan jama’ah di zaman Rasul yang merupakan satu-satunya jama’ah muslimin ketika itu. Perlu juga dipahami bahwa Rasul pun tidak membatasi pesannya, dalam dakwahnya, pada pesan-pesan keimanan semata. Tetapi juga menerangkan akibat-akibat sosial dan moral dari keimanan itu. Dalam memanggil manusia kepada agama ini, Rasul pun menggunakan cara yang rasional dan tidak dogmatis. Sehingga menjadi picik pandangan kita jika membatasi pesan dakwah kita hanya pada ajaran Islam periode makkah saja, apalagi orang sekarang sudah terbiasa dengan perincian-perincian dari ajaran Islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s