Teori Perubahan Sosial dalam Islam, Pemikiran Ja’far Syeikh Idris

Pemikiran mengenai perubahan sosial sangat dipengaruhi oleh world-view (pandangan dunia) yang diterima. Pandangan dunia materialistik tidak akan memberi ruang bagi peran Tuhan maupun efektifitas ibadah atau doa atau nilai-nilai moral dalam proses perubahan sosial yang dilakukan. Bagaimana konsep perubahan sosial, sesuai pandangan hidup Islam ?

“Sesungguhnya Allah  tidak akan mengubah apa yang ada pada sebuah bangsa, hingga mereka mengubah diri sendiri.” (Ar Ra’d :11). Ayat ini memberikan inspirasi kepada kita konsep dasar tentang perubahan sosial dalam pandangan Islam.  Nuktah-nuktah penting dapat diturunkan dari memahami ayat di atas :

  1. Allah, Tuhan yang Esa memiliki kebebasan bertindak secara mutlak. Ini berlawanan dengan konsepsi materialistik yang hanya memercayai sebab-sebab material (natural) saja dalam kehidupan.
  2. Umat manusia memiliki kebebasan bertindak terbatas. Hal ini berarti menentang konsepsi deterministik terhadap tindakan manusia, baik determinasi rasial maupun determinasi sosial-ekonomi. Manusia memiliki kebebasan. Bidang utama kebebasan itu adalah kebebasan pada sisi (dalam) diri mereka.
  3. Perubahan digerakkan dari dalam diri manusia sendiri
  4. Perubahan keadaan manusia dilakukan Tuhan sebagai hasil perubahan diri manusia itu sendiri.

Pada umumnya orang memahami perubahan dalam konteks ayat di atas adalah perubahan dari situasi buruk kepada situasi yang lebih baik. Tetapi, para ulama klasik justru sebaliknya memahami konteks perubahan pad ayat di atas adalah dari situasi baik kepada situasi yang lebih buruk. Berdasarkan analisis mereka (ulama klasik) atas ayat-ayat yang lain, situasi yang berubah itu terkait dengan nikmat Allah. Nikmat pada dasarnya dalah anugrah (rahmat) dari Allah yang diberikan secara cuma-cuma dan tidak menunggu manusia mengambil inisiatif melakukan hal-hal yang baik baru kemudian diberikan nikmat. Nikmat, dalam bentuk material maupun spiritual, adalah bentuk murni dari rahmat (kasih-sayang) Tuhan kepada umat manusia. Jika manusia bersyukur, nikmat akan dipelihara dan ditingkatkan. Jika manusia ingkar, Tuhan akan menghukum mereka dengan menarik kembali sebagian nikmat-Nya, kalau tidak keseluruhan, dari mereka. Jika mereka kemudian bertaubat, nikmat itu akan kembali. Sehingga meningkatnya kualitas hidup sebuah bangsa atau kemunduran dan keruntuhan sebuah masyarakat diatur oleh hukum moral kesyukuran ini. Cf (34:17, 16:112).

Tetapi kehancuran atau keruntuhan sebuah masyarakat hanya muncul sesuai dengan prinsip-prinsip berikut:

  1. Kehancuran atau hukuman tidak ditimpakan kepada sebuah bangsa sebelum bangsa itu mendapat peringatan secukupnya atau diberitahu melalui mekanisme yang menyadarkan mereka bahwa mereka memang berbuat salah. Cf (28:59,26:209, 6:131)
  2. Kehancuran tidak terjadi secara langsung, instan begitu kesalahan dilakukan. Ini juga merupakan sebentuk rahmat Tuhan. 22:48, 18:8-59
  3. Keruntuhan sebuah bangsa memiliki waktunya sendiri. 15:4-5
  4. Sebelum sebuah bangsa dihancurkan, mungkin bangsa itu ditimpa kesusahan yang ebrat yang membuat mereka bertaubat dan kembali ke jalan benar (30:41)
  5. Hukuman tidak dilakukan untuk menghapus seluruh dosa di dunia ini. Jika ditujukan untuk menghapus dosa niscaya semua bangsa akan dihancurkan (6:61)

Jika ketidaksyukuran adalah sebab kehancuran, sebaliknya kesyukuran juga adalah sebab kebangunan dan kemakmuran material dan spiritual sebuah masyarakat. Syukur ini pertama-tama berwujud pengakuan atas kehambaan kita kepada Allah.  Ini adalah sumber kebahagiaan kita. Kebahagiaan ini dapat berwujud nikmat materi (7:96, 5:66), kebahagiaan spiritual (16:97), atau berupa kemenangan atas musuh-musuh (3:68, 22:38, 40:51)

Berdasarkan konsepsi di atas apakah tugas yang diemban oleh kita (umat Islam) ? Tugas kita adalah tidak menunggu keruntuhan masyarakat. Tetapi memberikan peringatan dan memandu mereka ke jalan yang benar. Proses memperingatkan masyarakat itu juga harus berlandaskan situasi internal (jiwa) yang dekat dengan Tuhan (dalam bentuk keikhlasan kepada-Nya dan membersihkan jiwa mereka dari penyakit hati yang menghalangi nikmat-Nya).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s