Bersama Kesulitan Ada Kemudahan

Fa-inna ma’al usri yusran, inna ma’al ‘usri yusran (Alam Nasyrah : 5-6)

Ayat di atas umumnya sudah kita hafal. Dalam terjemahan Depag, maknanya “Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan.”

‘Usr bermakna semua bentuk kesulitan. Yusr, bermakna semua yang positif. Kata ma’a dimaknai setelah (sesudah),  sesuai dengan ayat Allah yang lain di surat At Thalaq : 7 (Sayaj’aluLlahu ba’da ‘usrin yusran). “Kelak Allah akan memberi kemudahan sesudah kesulitan.” Kata ma’a digunakan untuk makna bahwa tidak lama setelah kesulitan ada kemudahan. Saking dekatnya, seolah-olah tidak ada jarak waktu antara kesulitan dan kemudahan itu. Maknanya, selalu ada kemudahan saat kita menghadapi kesulitan, asal sabar menghadapi kesulitan itu. ‘Usr (kesulitan) dalam dua ayat di atas berbentuk definite, sedangkan yusr (kemudahan) berbentuk indefinite. Kaidahnya mengatakan, jika dua kata diulang dua kali berbentuk definite, maknanya sama; jika dua kata diulang dua kali berbentuk indefinte, maknanya berbeda. Berdasarkan kaidah ini, satu kesulitan selalu disertai dengan dua kemudahan. (Quraish Shihab).

Kesulitan tidaklah absolut, karena kemudahan selalu bersamanya. Setiap kali beban memberatkan, Allah melapangkan dada dan membantu meringankan beban itu. (Sayyid Qutb)

Besama kesulitan ada kemudahan, bukan setelahnya. Maksudnya kemudahan itu ada dalam waktu yang dekat. (Abul A’la Al Maududi)

Pengulangan dalam dua ayat ini menekankan bahwa kesulitan dan kemudahan selalu ada bersama (co-exist), saling mengikuti satu setelah yang lainnya. Setelah menempuh puncak (kesulitan), kehidupan akan memasuki medan ketenangan. Kesuksesan selalu harus ditempuh melalui rangkaian kesulitan-kesulitan. Setiap penempuh jalan kehidupan harus berani mengarungi badai untuk mencapai tujuannya. Ini adalah kaidah utama kehidupan, termasuk bagi mereka yang mengarungi jalan kebenaran. (Amin Ahsan Islahi)

Ath-Thalaq ayat 7, sayaj’aluLlahu ba’da ‘usrin yusran, lebih khusus memberi harapan kepada suami-istri yang dalam kesempitan tekanan-tekanan ekonomi dalam rumah tangga; sesudah susah nanti akan mudah. Tetapi, Alam Nasyrah : 5-6, konteksnya adalah untuk memimpin perjuangan sebagaimana yang dialami oleh Rasulullah. Maknanya dalam perjuangan, bersama kesulitan selalu ada kemudahan. (Hamka)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s