Spirit Idhul Adha

Pekan lalu sholat jumat di musholla Departemen Keuangan, Puputan Renon, Denpasar. Khatib saat itu membahas mengenai hikmah atau nilai spiritual ‘Idhul Adha. Berikut ringkasannya, sejauh yang teringat.

1. Pertama, spirit mendekatkan diri kepada Allah. Bahwa tujuan ber-qurban adalah pendekatan diri kepada Allah. Sebagaimana arti kata qurban itu sendiri. Penerimaan Allah terhadap qurban yang kita berikan bergantung dari basis keimanan yang melatari pengorbanan kita. Basis inilah yang menjadi nilai. Kisah pengorbanan Habil dan Qabil menjadi hikmah buat kita, bahwa hanya korban yang diberikan karena landasan taqwa saja yang diterima oleh Allah. Daging dan darah tidak dapat mengantarkan kita pada keridhaan-Nya, hanya taqwa yang dapat mengantarkan kita pada keridhaan-Nya. Kisah Habil juga memberi pelajaran pada kita, selain keikhlasan dan ketaqwaan yang menjadi basis pengorbanan, pemberian atau korban yang kita berikan juga adalah korban yang terbaik yang dapat kita berikan, bukan korban yang sekedarnya saja.

2. Kedua, spirit berkorban adalah spirit untuk berbagi. Spirit untuk memberi. Syariat mengajarkan, daging korban yang kita korbankan tidak kita konsumsi sendiri, ia dibagikan juga kepada mereka yang meminta maupun yang tidak meminta karena menjaga kehormatan diri-nya.

3. Ketiga, spirit cinta kepada Allah. Kisah Ibrahim dan keluarganya memberikan hikmah kepada kita tentang cinta dan tertib-tertibnya. Refleksi cinta kepada-Nya terletak pada kecepatan respon kita terhadap perintah-perintah-Nya, istilahnya syur’atul istijabah. Begitulah Ibrahim merespon perintah mengorbankan anaknya dengan cepat, begitu pula Ismail cepat merespon perintah itu dengan tanpa jeda mengatakan ‘Ayah, Lakukanlah apa yang telah diperintahkan (Allah). Insya Allah, engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar.’ Perhatikan kata-kata terakhirnya, betapa rendah hatinya Ismail mengatakan ‘Insya Allah, engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar’, bukan dia sendiri yang bisa bersabar, karena telah banyak orang diuji sebelumnya dan mampu bersabar. Menarik pula, betapa demokratisnya Ibrahim mendiskusikan perintah itu dengan anaknya, melalui tutur kata yang santun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s