Ilmu dan Budaya Ilmu

IMG01188-20131031-1841Franz Rosenthal, seorang orientalis terkenal, menulis bahwa sebuah peradaban memiliki kecenderungan dengan berpusat pada satu konsep tertentu, lebih dari konsep-konsep lainnya, yang kemudian memberikan karakter khas bagi peradaban itu. Dalam peradaban Islam, konsep  itu adalah konsep ‘ilmu. Konsep ilmu inilah yang mendominasi dan mencirikan peradaban Islam (dalam manifestasi klasiknya) [KT, 1-2].

Konsep Ilmu

Dengan merujuk kepada Al Qur’an sebagai sumber Islam kita memahami betapa pentingnya konsep ilmu dan peranannya dalam Islam. Salah satu indikasi dari penekanan konsep ilmu ini dalam Islam adalah perulangan penggunaan konsep-konsep itu dalam beragam variasi semantiknya. Ilmu merupakan kata ketiga yang menempati tabulasi frekuensi terbesar dalam Al Qur’an setelah kata Allah dan Rabb. Konsep-konsep penting lain dalam pandangan dunia Islam, semisal keadilan (‘adl), juga memiliki frekuensi penggunaan yang besar (melalui beragam variasi kata maupun sinonim dan antonimnya). Besarnya frekuensi ini merupakan salah satu indikasi, bukan satu-satunya indikasi pentingnya konsep ini dalam pandangan dunia Islam, karena kita juga dapat menemukan satu konsep yang hanya digunakan dua kali, kata syura (musyawarah), yang memiliki arti besar dalam politik Islam [KP, 34-35]

‘Ilm berakar pada kata ‘alamah yang berarti tanda, simbol atau lambang, yang dengannya seseorang atau sesuatu dikenal. Sumber pengetahuan dalam konsep Islam adalah Tuhan, karena Dia-lah yang mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Ilmu terkait dengan kebenaran (al haq) dan kepastian (al yaqin), sebagai anti-tesis dari kesalahan (al bathil), keraguan (al syakk) dan dugaan (al zhann). Ilmu dalam Islam juga memiliki sifat yang holistik, yang merupakan refleksi dari konsep tauhid yang mendasar. Ayat wahyu menegaskan kecocokannya dengan ayat-ayat Tuhan yang lain dalam alam, sejarah maupun psikologi manusia itu sendiri. [KP 66, 67,70].

Secara logis pengetahuan harus diikuti okeh perbuatan yang baik. Pengetahuan juga memiliki signifikansi bagi perkembangan spiritual pribadi Islam yang benar. Mereka yang memiliki pengetahuan yang mampu menjaganya dari perbuatan yang salah dan mendorongnya melakukan tindakan yang benar disebut sebagai mereka yang memiliki hikmah. [KP 71, 78]

IMG01189-20131031-1841Pengetahuan memiliki sifat yang tak terbatas. Al Quran menggambarkan bahwa di atas setiap orang yang berpengetahuan ada yang lebih mengetahui (12:76). Oleh karenanya kita diperintahkan untuk mencari pengetahuan lebih banyak, sebagaimana Musa mencari pengetahuan dari seorang hamba Allah yang darinya ia menggali banyak hikmah. Nabi Muhammad juga diperintahkan untuk berdoa agar ditambahkan ilmu (20:114). [KP :114]

Konsep pengetahuan, akan lebih jelas dengan melihat pula kebalikannya maupun memahami sinonimnya. Medan semantik pengetahuan (dalam Al Qur’an) juga memasukkan dalam konsep-konsep sinonimnya; proses dan hasil perenungan (tafakkur dan tadabbur), pemahaman (fiqh), petunjuk spiritual (huda) dan cahaya (nur), kebenaran (haq), keyakinan (yaqin), dan iman dan taqwa. Antitesi pengetahuan adalah tidak mengetahui (la ya’alamun), tanpa pengetahuan (bighairi ‘ilm), subhah (skeptis), syakk (ragu), raib (ragu, curiga), zhann(dugaan), hawa (keinginan),bathil (salah), zhulman (kegelapan) dan jahl (kebodohan). Para ulama klasik memahami jahl sebagai lawan langsung dari ‘ilm. (Sementara beberapa orientalis, berdasarkan analisis semantik, memahami jahl sebagai lawan kata hilm (kesantunan)). [KP:79,82]

Budaya Ilmu

Budaya Ilmu ialah wujudnya keadaan dimana setiap lapisan masyarakat melibatkan diri, baik langsung atau tidak, dalam kegiatan keilmuan dalam setiap kesempatan [BI 29]. Ia juga merujuk pada wujudnya satu keadaan dimana setiap tindakan manusia, baik pada skala individu maupun masyarakat diputuskan dan dilaksanakan berdasarkan ilmu. Dalam budaya ini, ilmu merupakan keutamaan tertinggi dalam nilai peribadi maupun masyarakat; individu dan masyarakat terlibat dalam memberi bantuan, kemudahan dan pengakuan yang tingggi terhadap individu maupun lembaga yang melibatkan dalam pencarian dan penyebaran pengetahuan. Masyarakat berbudaya ilmu juga menilai negatif terhadap sifat jahil, bebal dan anti-ilmu. [BI 29]

Pentingnya budaya ilmu ini bagi sebuah peradaban adalah karena ia merupakan syarat bagi kejayaan dan kekuatannya. Bangsa yang kuat (secara fisik-material) tanpa ditunjang budaya ilmu yang baik akan terserap oleh peradaban lain yang lebih baik budaya ilmunya. Dari sejarah kita memahami bagaimana suku Jerman yang menaklukan imperium Romawi di abad ke-4, justru terserap ke dalam budaya Romawi, demikian pula pasukan Mongol yang terserap ke dalam peradaban Islam maupun Cina yang lebih kuat budaya ilmu-nya. [BI 11-12]

 

Imam Ghazali dan Budaya Ilmu

Imam Ghazali dalam upayanya membangkitkan ilmu-ilmu agama (ihya ‘ulumu-ddiin) memulai-nya dengan menulis buku pertama dengan buku mengenai ilmu (Kitabul ‘Ilm). Dari buku ini kita bisa memahami bagaimana konsep dan budaya ilmu direpresentasikan dalam peradaban Islam klasik.IMG01190-20131031-1842

Kitab Ilmu ini dimulai dengan bab mengenai Keutamaan Ilmu serta Keutamaan Belajar dan Mengajar. Melalui kutipan-kutipan dari Al Qur’an, Hadist maupun ucapan-ucapan penuh hikmah dari tokoh-tokoh pendahulu Imam Ghazali mengungkapkan keutamaan tiga aspek mendasar ilmu di atas; ilmu itu sendiri, belajar dan mengajarkannya. Demikian pula beliau mengutarakan argumentasi rasional atas keutamaan ilmu. Menurut beliau keutamaan sesuatu muncul jika ada bandingannya dengan yang lain seperti keutamaan kuda atas keledai, karena faktor kecepatannya walaupun memiliki kesamaan dalam kemampuannya memikul beban. Ilmu merupakan keutamaan pada dirinya, secara mutlak, tanpa kaitan (bandingan) dengan yang lain. Beliau juga mengungkapkan, sesuatu itu berharga dan diminati terbagi dalam tiga kategori (1) diminati sebagai sarana memperolah yang lain (2) diminati karena dirinya sendiri (3) diminati karena dirinya sendiri sekaligus sebagai sarana memperoleh yang lain. Ilmu diminati karena dirinya sendiri sekaligus sarana untuk memperoleh yang lain.

Selanjutnya beliau menerangkan mengenai klasifikasi ilmu yang fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Mengenai ilmu yang terpuji dan tercela, serta keutamaan ilmu-ilmu akhirat (ilmu mu’amalah-dalam arti etis).

Setelah membahas mengenai kerancuan makna yang muncul di zamannya terkait dengan ilmu-ilmu yang dibutuhkan oleh setiap orang, serta pembahasannya mengenai ilmu debat; beliau membahas mengenai adab belajar dan mengajar. Selanjutnya membahas berbagai penyakit terkait ilmu dan tanda-tanda ulama akhirat dan ulama busuk. Ini merupakan pembahasan mengenai tanggung jawab ilmiah bagi seseorang maupun etika ilmiah.

Pada akhirnya buku ini diakhiri dengan pembahasan mengenai akal, hakikat dan pengertiannya serta perbedaan tingkat manusia sesuai dengan akalnya.

 

[KT] Knowledge Triumpant, Franz Rosenthal. Brill, 2007

[KP] Konsep Pengetahuan Dalam Islam, Wan Mohd. Nor Wan Daud. Pustaka, 1997

[BI] Budaya Ilmu, Satu Penjelasan, Wan Mohd. Nor Wan Daud. Pustaka Nasional Singapura, 2003

[IPT] Ilmu dalam Perspekif Tasawuf, Al Ghazali, Karisma 1996 (Terjemahan Kitab Al ‘Ilm dari Ihya ‘Ulumuddin)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s