Polemik Sekularisasi di Dunia Islam, Min Huna Nabda’ dan Min Huna Na’lam

Perjumpaan dunia Islam dan dunia Barat memicu ide sekularisasi di dunai Islam sebagaimana dipraktekkan oleh peradaban Barat. Ide-ide sekularisasi ini tentu saja membuat polemik di dunia Islam. Salah satu polemic yang muncul adalah polemik antara Khalid Muhammad Khalid yang pada tahun 1950-an mengeluarkan buku Min Huna Nabda’ (Dari Sini Kita Mulai). Yang kemudian disambut oleh salah satu tokoh Ikhwanul Muslimin ketika itu, Muhammad Al Ghazali dengan meluncurkan seri tanggapan terhadap buku Khalid M. Khalid yang kemudian dibukukan menjadi Min Huna Na’lam (Dari Sini Kita Tahu).

Sampai saat ini gema tema-tema polemik itu masih sering diungkapkan ketika diskusi mengenai peran Islam dan Negara atau Islam dan Perempuan atau Islam dan Modernitas. Tentu saja perlu dicatat bahwa posisi mereka yang berpolemik tidak selalu tetap, seiring dengan perjalanan waktu dan akumulasi pengalaman sebagian mengalami perubahan ide, sebagaimana Khalid M. Khalid merevisi idenya mengenai peran agama pada tahun 80-an. Demikian pula realitas Negara nasionalis yang ada di dunia Islam (dengan rakyat mayoritas Muslim) saat ini memberikan pengaruh pada ragam pilihan interaksi antara Islam dan Negara.

Berikut ini merupakan pokok-pokok pikiran dalam buku Min Huna Nabda’, Dari Sini Kita Mulai, karya Khalid Muhammad Khalid :

  1. Kebebasan merupakan prasyarat kemajuan. Kebebasan memerlukan tanggung jawab sosial. Pokok pembicaraan mengenai “perubahan sosial yang terjadi ” dan bagaimana mengarahkannya dengan tepat. Ke arah kebebasan (atau pembebasan) inilah usaha untuk meraih kemajuan perlu diarahkan. Hal-hal (agenda) yang perlu dilakukan dalam rangka rekonstruksi masyarakat menuju kemajuan.
  2. Pertama, memurnikan agama (Islam) dari kependetaan. Kependetaan (dalam Islam) direpreW2430_IMG_20131112_140337sentasikan dalam kelompok ulama kolot yang anti-perubahan. Kependetaan inilah yang menyatakan bahwa kemiskinan merupakan kehendak langit. Kependetaan merupakan penghalang kebebasan. Kependetaan memonopoli kebenaran. Kependetaan merupakan ideologi yang menjadi kedok bagi eksploitasi terhadap rakyat. Tetapi dasar utama ideologi ini adalah kebodohan dalam memahami hakikat agama, terperangkap terhadap masa lalu dan enggan melakukan perubahan. Orientasi kepada kehidupan, bukan penolakan hidup. Keperluan terhadap penguasaan kehidupan (material). Tidak ada spiritualitas yang genuine yang berdiri di atas kemelaratan ekonomi. Spiritualitas hanya dapat dibangun di atas kecukupan kehidupan material masyarakat. Masyarakat  miskin tidak bisa diharapkan untuk memperhatikan kebersihan spiritual mereka. Terhadap kebebasan pemikiran, kependetaan merupakan musuh utama. Ideologi kependetaan bukan saja bermaksud memelaratkan fisik, tetapi juga memelaratkan pikiran melalui kontrol dan pembatasan terhadapnya. Perbedaan antara agama (genuine) dengan kependetaan; agama pada fitrahnya adalah humanis dan altruis, sedangkan kependataan egoistik, agama pada fitrahnya demokratis sedangkan kependetaan totalitarian, agama menaruh kepercayaan pada akal sedangkan kependetaan menolak memercayai akal, agama memercayai dan mencintai kehidupan sedangkan kependetaan memusuhi dan membenci kehidupan.
  3. Kedua, menegakkan konsep sosialisme dalam kehidupan masyarakat. Basis perdamaian adalah roti (ekonomi). Tali pusar dari kejahatan adalah kelaparan. Problem sosial yang menghalangi kemajuan (1) disparitas sosial, jurang sosial antar klas (yang mendapatkan fasilitas dan yang tertindas), besarnya perbedaan antara si kaya dan si miskin (2) Penguasan dan pengerjaan atas tanah yang tidak berkeadilan (3) Upah kerja yang rendah. Kebutuhan kita adalah Sosialisme moderat,sebagaimana terwujud dalam konsep yang sekarang kita kenali sebagai welfare-state.Tidak cukup menyelesaikan masalah ekonomi ini hanya dengan meluaskan sedekah. Yang dibutuhkan masyarakat bukan individu yang menjadikan sedekah/atau zakat sebagai penunjang penghidupan mereka. Ide utama dari sosialisme moderat ini adalah keadilan sosial. Keadilan sosial yang mewujud dalam pendeknya jarak antara kaya dan miskin, penghidupan yang layak bagi setiap orang. Perlu dijalankan langkah-langkah praktis untuk merealisasikan keadilan sosial ini (dalam konteks Mesir ketika itu); mendekatkan jarak antar klas (menyamakan fasilitas atas rakyat, tidak ada pilih kasih), menaikkan upah pekerja, skema pemberian tanah bagi para petani, nasionalisasi perusahaan dan pembatasan kelahiran.
  4. Ketiga, memisahkan agama dari negara. Menjauhkan keinginan untuk memiliki pemerintahan religius. Pemerintahan religius merupakan anti-tesis kemajuan.Ajaran utama Islam adalah monoteisme. Monotoisme ini pada hakikatnya adalah sarana untuk pembebasan manusia; Tuhan satu, semua manusia sama, manusia bersaudara, manusia bebas. Dasar utama agama adalah kenabian bukan imperium. Mereka yang mengidamkan negara-agama mendasarkan argumentasi mereka pada (1) keperluan untuk mengeilminasi keburukan (2) menegakkan aturan agama (3) rekonstruksi masyarakat. Bagi Khalid, ketiga argumen ini lemah. (1) Tugas agama adalah mengingatkan moral, tidak efektif menggunakan kekuatan atau kekerasan untuk mengelminasi keburukan atau menegakkna moral masyarakat. (2) Dalam agama, larangan yang terkait dengan hukum pidana bersifat mencegah dan mendidik, bukan menghukum (punitive) karena hukuman atas larangan itu (zina, pencurian misalnya) dipersulit dalam praktek pelaksanaannya. Pemerintahan religius menginap insting yang sebati (built-in) untuk mematikan kebebasan. Insting mematikan itu adalah (1)dasar otoritas yang kabur (bayangan Allah di muka bumi, konstitusi kami adalah Quran dan Hadist); yang mudah diplintir oleh tirani (2)Tidak memercayai kapasitas intelektual manusiawi dan meremahkan penemuan akal (3) mengagungkan otoritas dirinya dengan melabeli penentangnya yang kritis sebagai musuh Tuhan atau agama (4)Kebanggaan palsu atas otoritasnya (melabeli pemecah belah persatuan bagi kritikusnya) (5)monarki absolut (6) stagnasi dan oposisi terhadap kehidupan (7) mudah untuk melakukan tindak kekerasan untuk menyelesaikan masalah. Peran pemimpin religius adalah sebagai penunjuk moral bagi masyrakat, sedangkan negarawan adalah menyelesaikan permasalahan sipil rakyat.
  5. Keempat, kebebasan politik perempuan. Setelah pendidikan atas perempuan diterima secara umum, perlu ditingkatkan kepada pembebasan partisipasi politik perempuan (untuk menjadi anggota parlemen misalnya).

Pokok-pokok pikiran dalam Min Huna Na’lam, Dari Sini Kita Paham, karya Muhammad Al Ghazali, yang merupkan responsi terhadap pemikiran Khalid M. Khalid dalam Min Huna Nabda’:

  1. Di bawah judul Pemerintahan Islami, bukan pemerintahan nasionalis; Muhammad Al Ghazali menolak klaim Khalid M. Khalid untuk melikuidasi peran agama dari negara. Problem sejarah Islam terkait dengan ini adalah problem tiadanya konstitusi yang membatasi, problem tirani (yang bisa saja dilakukan orang dengan memanfaatkan legitimasi religius). Kesalahan yang dilakukan orang atau kelompok tertentu dalam sejarah Islam, tidak seharusnya dipahami merupakan kesalahan Islam. Menyalahkan agama karena alasan praktek pemimpin-pemimpin Islam masa silam yang tidak ideal merupakan kesalahan/sesat nalar. Apalagi, menuntut penghapusan peran agama dalam negara. Sebagaimana kita tidak meminta penerapan kembali pemerintahan otoritarian, karena kita melihat praktek demokrasi tidak paralel dengan pertumbuhan ekonomi, misalnya.
  2. Islam adalah doktrin sekaligus sistem, risalah dan daulah, pesan dan praktek sekaligus. Memeras Islam hanya sebagai ajaran agama (moralitas) tidak memiliki dasar yang tegas dalam teks-teks agama maupun sejarah. Menafsirkan bahwa Islam hanya risalah keagamaan (dalam pengertian kepercayaan dan moralitas semata), dan menafsirkan realisasi Islam dalam pentas negara hanya sebagai kebutuhan lingkungan yang lepas dari substansi risalah; juga tidak memiliki kekokohan referensial  (dari teks dan sejarah).
  3. Realisasi kebenaran (agama, moral) tidak cukup hanya mengandalkan persuasi. Ia memerlukan kekuatan untuk W2430_IMG_20131112_140321merealisasikannya. Sebagaiman ide kebebasan, persaudaraan dan persamaan memerlukan negara untuk merealisasikannya.
  4. Perlu dibedakan antara babakan sejarah yang dialami umat Islam dengan apa yang dialami oleh Kristianitas. Menyamakan kedua sejarah merupakan ketidakarifan. Tidak pula tepat membandingkan peran ulama di dunia Islam dengan sistem kependetaan yang ada di dunia Kristen. Karena memiliki peran yang memang berbeda. Kalaupun didapati adanya ulama-ulama yang menghalangi perkembangan ilmu atau melegitimasi penguasa yang korup; itu adalah efek kebodohan dan nafsu; bukan bersumber dari doktrin. Perlu juga jeli melihat sejarah Barat, agar tidak melihatnya dari satu dimensi (dimensi kemajuan semata); tetapi juga perlu dipahami bagaiman kerugian kemanusiaan yang muncul (baik dalam peradaban mereka maupun yang diderita dunia Timur) atas doktrin maupun praktek yang mereka lakukan.
  5. Nasionalisme yang ditolak adalah yang chauvinistik, sebagaimana direpresentasikan dunia Barat dalam watak imperial-nya, yang tampak jelas dalam kegaduhan dunia dalam awal abad dua puluh dan sebelumnya.
  6. Sedekah (pemberian) merupakan ajaran dasar Islam. Sedekah memang bukan satu-satunya cara untuk menghilangkan kemiskinan, sebagaimana dipromosikan oleh sebagian orang. Tetapi bukan berarti memberikan sedekah merupakan kesalahan, karena ia merupakan dasar keberagamaan seseorang. Solusi sistemik untuk mengentaskan orang dari kemiskinan tetap dibutuhkan.
  7. Program sosialisme (dalam arti sosialisme moderat), sesuai dengan Islam asal mengedepankan aspek religiusitas dalam prakteknya (tidak melikuidasinya).
  8. Persoalan Islam dan wanita, Muhammad Al Ghazali lebih mengacu pada teks-teks; yang menyatakan persamaan moral antara pria dan wanita; maupun mengenai kedudukan kepemimpinan lelaki atas wanita. Mengenai pendidikan bagi kaum perempuan, hal yang perlu didukung, Mengenai partisipasi politik perempuan dalam parlemen (atau politik umumnya) yang diperlu dipertimbangan adalah ekses keluarga dan sosialnya.
  9. Mengenai pembatansa kelahiran, Al Ghazali menolak jika dijadikan sebagai program nasional. Walaupu kontrol kelahiran tidak-lah terlarang, apalagi dalam kasus-kasus khusus.

Refleksi :

  1. Ada faktor yang menjadi titik persamaan terkait dengan relasi agama dan politik dalam polemik kedua tokoh di atas. Yaitu mengenai perlawanannya terhadap tirani politik. Sehingga common problem yang dihadapi adalah terkait dengan tirani politik. Tirani politik bisa termanifestasi dalam segala bentuk rezim, rezim kerajaan maupun rezim sosialis yang muncul di dunia Islam pada tahun 50-an dan 60-an abad lalu.
  2. Nasionalisme di dunia Islam saat ini sudah menjadi fakta sosial. Hampir semua negara di dunia Islam ditubuhkan berdasarkan nasionalisme. Nasionalisme di sini tentu saja (secara ideal) tidak memaksudkannya sebagai nasionalisme model imperealis (seperti nasionalisme Eropa pada abad-abad lalu). Fakta sosial juga, mayoritas rakyat tetap memeluk Islam. Bagaimana relasi yang harus dibangun antara agama dan negara dalam konteks ini ?
  3. Problem kemiskinan dan problem kaum perempuan juga tetap menjadi problem dunia kita. Fakta sosialnya negeri-negeri muslim adalah negeri miskin (sehingga program negara kesejahteraan, tetap menjadi relevan).
  4. Pembebasan Perempuan (jika istilah ini bisa mewakili fenomena yang ada sekarang) telah terjadi di seluruh dunia Islam; entah sesuai dengan jalur yang tepat atau mengacu begitu saja pada dasar liberalisme peradaban Barat. Islam dan peran perempuan tetap akan menjadi wacana yang terus akan dibicarakan.
  5. Faktor globalisasi, informasi maupun ekonomi, menjadi faktor yang menyeragamkan problem yang dihadapi dunia Islam. Globalisasi ini tentu saja disadari dipiju oleh peradaban Barat. Relasi antara Islam dan Barat (secara pemikiran maupun peradaban) juga akan menjadi wacana dominan.
  6. Nada dan argumentasi yang digunakan oleh Khalid M. Khalid mirip yang digunakan oleh Sutan Takdir Alisjahbana dalam polemik kebudayaan yang muncul di Indonesia tahun 1930-an, terutama terkait dengan sikap kita terhadap peradaban Barat.

One thought on “Polemik Sekularisasi di Dunia Islam, Min Huna Nabda’ dan Min Huna Na’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s