Hadji Agus Salim, Tentang Agama dan Keberagamaan

Hasrat Manusia Terhadap Agama

Mereka yang terdidik dalam alam pikiran modern kadangkala mengalami masa di mana melalui pengaruh pendidikan yang didapatkannya Iman yang tertanam sejak masa kanak-kanaknya sedikit demi sedikit mengalamai pengikisan. Pengikisan yang menjadikan Iman-nya menjadi tidak terlalu dihargai. Keterdidikannya dalam alam pikiran modern juga membuatnya memiliki kepercayaan diri yang tinggi terhadap kemampuan rasionalitasnya untuk memecahkan permasalahan hidupnya. Sampai kemudian kita diajarkan oleh kehidupan untuk menyadari atau mengakui ada begitu banyak soal kehidupan yang beredar di luar kendali rasionalitas kita untuk memahami atau memecahkannya. Banyak kejadian kemudian yang mengajarkan kepada kita untuk mengakui kelemahan diri kita di hadapan problematik 100tahunHSalimkehidupan. Biasanya pada usia-usia kematangan kita, 40-an tahun, ketika kita mulai menyadari tanggung jawab besar terhadap rumah tangga, anak-anak dan masyarakat. Kepastian kita berkurang terhadap rasionalitas (juga terhadap produknya, utamanya sains dan filsafat) untuk menyelesaikan masalah-masalah kehidupan. Pada titik-titik seperti inilah kita memerlukan bimbingan, petunjuk yang berasal dari luar rasionalitas, bimbingan agama.

Tetapi untuk bertekun memahami bimbingan agama itu memiliki tantangan tersendiri. Rutinitas dan tuntutan keseharian bisa membuat kita tenggelam di dalamnya. Dalam rutinitas, dalam kenyamanan hidup yang memang diinginkan, muncul keengganan untuk menanyakan kembali makna hidup itu sendiri. Hingga ujung usia menghampiri kita. Pada masa-masa ini kita tidak lagi menguasai kehidupan, justru kita dikuasainya. Pusat perhatian kita adalah pemenuhan kebutuhan bendawi, pencarian kesenangan, kesantaian, kesenggangan dan ketentraman. Kecuali, jika kita enggan untuk tenggelam dan memiliki keberanian untuk bertanya. Menolak untuk memerosotkan nilai hidup kita.

Pengertian Konsep-Konsep Dasar Islam

Islam

Islam, menurut definisi berarti ketundukan dan kepatuhan kepada semua perintah yang diberikan oleh Allah melalui Rasul-Nya. Ada beberapa akar kata darimana kata Islam terbentuk. Salima, berarti keadaan selamat, sentosa, tidak cacat, tidak kekurangan atau tidak rusak. Aslama, memelihara, menyucikan, memelihara (diri – dan semua makhluk) dari cacat, cela dan bencana; ia juga berarti menyerahkan diri, tunduk, takluk sepenuhnya kepada Allah.

IMG01318-20140424-1830Dengan pengertian-pengertian di atas kita dapat memahami Islam sebagai ajaran, perintah, petunjuk bagi (upaya) penyelamatan diri (dunia dan manusia) dan memelihara, membela (dunia dan manusia) dari cacat, cela, celaka dan bencana; pada saat yang sama (melalui) penyerahan diri (ketundukan dan kepatuhan) kepada Allah.

 

Iman

Iman adalah pengakuan akan kebenaran (sesuatu) dengan hati. Dari akar katanya. Amana, berarti setia, patuh. Amina, berada dalam keadaan aman, tidak kuatir dari bahaya.

Iman dapat dipahami sebagai percaya dengan keyakinan teguh, disertai perasaaan tentram; dengan demikian ia patuh kepada yang dipercaya itu.

Islam memerlukan kesadaran, kehendak, maksud dan kesengajaan untuk melaksanakan sikap, laku dan perbuatan yang diminta. Ini terkait dengan aspek zhahir. Iman merupakan kerja batin, hati yang tidak seluruhnya dalam kuasa kehendak dan akal kita. Sehingga masalah iman, sebagiannya terkait dengan kemurahan, kasih-sayang Allah. Yang kita perlu lakukan terkait dengan iman ini adalah memohon kepada-Nya dan melakukan perintah-Nya.

Niat dan Ikhlas

Niat berarti kesengajaan. Bermula dari gerak hati dan lintasan pikiran, kemudian menguat menjadi kemauan (iradat), lalu lebih tegas menjadi tuntutan hati untuk berbuat (himmah), lalu menjadi kehendak kuat (azzam), kemudian menjadi maksud/tujuan (qashd) dan akhirnya menjadi menyengajakan langkah memulai (berbuat ) / niyat.

Niat ini dalam Islam (utamanya terkait dengan rukun-rukun-nya, misal sholat dan puasa) diharuskan menyertai perbuatan itu dari awal hingga akhir. Dalam sholat misalnya, niat adalah sungguh-sungguh sengaja menyempurnakan setiap gerakannya. Gerak yang tidak hanya karena kebiasaan atau seenaknya saja atau asal saja (dari pada tidak sama sekali). Sengaja berarti teliti dan rapi.

Niat disyaratkan ikhlas. Ikhlas berarti tidak mengharap pujian orang lain. Lawannya riya. Ikhlas berarti karena Allah. Berbuat karena Allah merupakan keutamaan dalam berbuat. Keutamaan ini berkebalikan dengan laku transaksional (jual beli) dalam beribadah.

Ibadah dan Takwa

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku”. Dari ayat ini nyatalah bahwa ibadah tidak terbatas pada rukun-rukun (tiang-tiang) Islam semata (Sholat, Puasa, Zakat, Haji). Tetapi mencakup semua aspek kehidupan kita. Dengan bersendi, berdasar pada rukun-rukun Islam ini, manusia dikehendaki untuk meniat-kan ibadah bagi setiap kata dan perilaku-nya. Ibadah adalah perbuatan hamba yang bertentangan dengan nafsunya karena memuliakan keaguangan Tuhannya.

IMG01319-20140424-1831Untuk mencapai nilai ibadah dalam konteks yang luas ini kita perlu memakai takwa. Takwa secara Bahasa berarti hati-hati, awas, ingat, menjaga diri; seolah-olah berlindung di balik pagar supaya terpelihara dari bahaya dan bencana. Dalam keterangan lain, takwa berarti ikhlas dalam ketaatan, pantang dari maksiat dan sikap awas, jangan terjerumus karena lengah, lalai atau lupa.

Seperti iman dan ikhlas, takwa juga merupakan suatu keadaan, sikap jiwa-batin; yang kita tidak dapat menguasainya, membentuknya semata-mata karena kehendak hati atau pendapat akal kita saja. Tetapi ia juga bergantung pada kemurahan Tuhan, rahmat-Nya. Yang perlu bagi kita adalah bersungguh-sungguh berdo’a kepada-Nya dan menggunakan ibadat yang di-fardu-kan oleh-Nya; dengan menyengajakan niat (ibadah) dalam amal kebajikan dan kerja kita.

Fardu secara logat tidak berarti tuntutan (mewajibkan) sebaliknya berarti peruntukan bagian. Pemberian bagian yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya. Yang tidak melakukan, tidak mendapatkan bagian itu.

(Bagian awal tulisan ini merupaka parafrase dari sebagian ceramah H. Agus Salim pada saat pembentukan JIB – Jong Islamieten Bond. Dalam membahas konsep-konsep Iman, Islam H. Agus Salim banyak mengutip kitab At Ta’rifat karangan Al Jurjani. Yang menarik yang dilakukan H. Agus Salim di sini adalah pengaitan satu konsep dengan konsep yang lainnya.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s